Output based Budgeting

output_based_budgeting_anggaran_berbasis_kinerjaApakah dasar untuk menentukan besar kebutuhan belanja sebuah kegiatan? Ini pertanyaan penting karena sumberdaya (dana) terbatas, tetapi harapan terhadapnya tak terbatas. Oleh karenanya, cara terbaik harus dicari dan diterapkan sehingga penganggaran di sektor publik juga sesuai dengan prinsip ekonomi, yaitu: menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya dari sumberdaya (dana) terbatas.

Pada PP 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan tentunya juga pada Permendagri 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dijelaskan dua (2) cara untuk menentukan besar kebutuhan belanja sebuah kegiatan, yaitu:

  1. Prakiraan Maju

    Dengan cara ini, perkiraan kebutuhan belanja sebuah kegiatan didasarkan pada hasil prakiraan maju kebutuhan belanja kegiatan di tahun anggaran sebelumnya. Jadi, Yt+1 = prakiraan maju dari Yt sesuai hitungan di tahun t. Dimana Y = kebutuhan belanja sebuah kegiatan, dan t = tahun anggaran.

    Setelah selesai menghitung Yt di tahun anggaran t ini, selanjutnya dibuat prakiraan maju untuk memperkirakan Yt+1. Hanya saja kita tetap masih bingung teknik spesifik untuk menghitung Yt dan cara prakiraan maju dari Yt untuk mendapatkan Yt+1.

  1. Pendekatan Prestasi Kerja

    Dengan pendekatan ini, kebutuhan belanja sebuah kegiatan dilakukan dengan: memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut.

    Arahan seperti ini sudah relatif baik karena menjelaskan bagaimana menentukan nilai Yt, yaitu dengan “memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut”. Tetapi arahan seperti ini pun masih menyisakan pertanyaan lain, yaitu bagaimana cara spesifik untuk memperhatikan keterkaitan sehingga usulan belanja sebuah kegiatan menjadi tepat dan wajar.

Output based budgeting: Teknik Penganggaran pada Realitanya.

Pada realitanya, penghitungan kebutuhan belanja sebuah kegiatan dilakukan berdasarkan target output dari kegiatan yang bersangkutan. Cara seperti ini tidak hanya diterapkan pada kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan non fisik. Cara ini umumnya dinamai sebagai output based budgeting.

Output based budgeting (OBB) umum diterapkan karena target keluaran output lebih mudah diidentifikasi dan dispesifikasikan sehingga lebih mudah juga untuk menentukan kebutuhan belanja untuk mewujudkannya. OBB memudahkan para pihak untuk menilai kewajaran usulan belanja sehingga mengurangi potensi konflik di antara mereka. Namun demikian, penerapan OBB ini seringkali tidak disadari. Mengapa? Karena arahan dari PP 58/2005 dan Permendagri 13/2006 kurang spesifik. Akibatnya, bisa saja terjadi konflik kecil akibat perbedaan dasar penganggaran. Bayangkan apa yang akan terjadi jika pengusul menerapkan penganggaran berdasarkan capaian program, sementara pihak lain (penilai) menerapkan OBB saat menilai kewajaran usulan belanja kegiatan yang bersangkutan.

Pertanyaan penting terkait penerapan OBB ini adalah: apakah OBB mampu mewujudkan target hasil outcome dan Capaian Program? Bila tidak, apa syarat-syarat yang harus dipenuhi sehingga OBB, yang telah umum diterapkan ini, lebih berdaya guna dan berhasil guna?

Secara normatif (teoritis), paling tidak, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sehingga OBB ini mampu mewujudkan target hasil outcome dan Capaian Program. Syaratnya adalah sebagai berikut:

  1. Output kegiatan harus berhasil diwujudkan

    Ini adalah syarat utama yang harus dipenuhi. Jika target output tidak dapat diwujudkan, maka otomatis target outcome dan capaian program tidak dapat diwujudkan sama sekali. Oleh karena itu, pada tahap perencanaan anggaran, yaitu saat penyusunan RKA-SKPD dan bukan pada saat penyusunan DPA-SKPD, SKPD harus menyusun Gantt Chart atau tabel rencana kerja.

    Dengan tabel rencana kerja ini, perencana menentukan rangkaian aktivitas-aktivitas terpendek yang perlu dilakukan dalam satuan waktu dan personil penanggungjawab tiap aktivitas sehingga target output berhasil diwujudkan. Dari informasi pada Gantt Chart tersebut, perencana dapat menghitung kebutuhan pendanaan (belanja) secara lebih sistematis, yaitu sesuai rangkaian aktivitas-aktivitas terpendek yang memang diperlukan sehingga target output berhasil diwujudkan.

    Pada tahap diskusi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Panitia Anggaran (Panggar) dan atau Komisi di DPRD, informasi di Gantt Chart ini merupakan kunci untuk menjelaskan bentuk riil dari kegiatan yang diusulkan. Bila pada tahap diskusi tersebut kita hanya menyebutkan nama kegiatan tanpa informasi lainnya, maka TAPD, Panggar dan atau Komisi DPRD, dan bahkan SKPD pengusul akan bingung menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan yang diusulkan.

  1. Indikator kinerja terkait dalam hubungan sebab-akibat yang erat dan logis.

    Keterkaitan dalam hubungan sebab-akibat yang kuat dan logis merupakan syarat penting yang harus dipenuhi. Bila tidak, OBB tidak akan mampu menjamin terwujudnya Outcome kegiatan apalagi Capaian Program. Oleh karena itu, pada tahap perencanaan kegiatan perencana harus selalu menguji keterkaitannya. Penting untuk dicatat sekali lagi bahwa bahwa istilah tahap perencanaan pada artikel ini adalah saat penyusunan RKA-SKPD dan bukan pada saat penyusunan DPA-SKPD.

    Penilaian keragaan hubungan sebab akibat ini harus dilakukan di SKPD pengusul, serta diklarifikasi dan dikonfirmasi ulang oleh tim khusus dari TAPD. Banyak kata kunci yang dapat dipakai untuk menilai keragaan hubungan sebab akibat tersebut. Kata kunci yang umum digunakan adalah “Jika . . . Maka . . .”, seperti yang dicontohkan pada tabel di bawah ini.

  2. INDIKATOR EVALUASI HUBUNGAN SEBAB AKIBAT ASUMSI
    Input - -
    Output JIKA input tersedia, MAKA output akan terwujud Cateris Paribus
    Outcome JIKA Output terwujud, MAKA Outcome akan terwujud Cateris Paribus
    Capaian Program JIKA Outcome terwujud, MAKA Capaian Program terwujud Cateris Paribus
  1. Sinergi kegiatan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung, baik intra SKPD maupun antar SKPD.

    Satu output kegiatan umumnya dapat diwujudkan dengan hanya satu kegiatan. Tetapi, mulai dari tingkat outcome kegiatan hingga capaian program, umumnya dibutuhkan lebih dari satu kegiatan. Perhatikan ilustrasi sederhana di tabel berikut yang menunjukkan contoh komponen-komponen kegiatan Pelatihan Budidaya ikan air tawar.

    Program
    Kegiatan Pelatihan Budidaya ikan air tawar
    INDIKATOR TOLOK UKUR KINERJA TARGET KINERJA
    Input - -
    Output Calon petani potensial yang trampil dalam budidaya ikan air tawar 50 Orang (dari 50 peserta) = 100%
    Outcome Realisasi pembukaan usaha baru budidaya ikan air tawar 49 usaha dari 50 usaha yang seharusnya terbentuk
    Capaian Program Berkembangnya omset usaha budidaya ikan air tawar rerata meningkat 1% di 49 usaha baru yang terbentuk tersebut

    Misalkan ilustrasi di atas sudah tepat dan bisa diterima. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa untuk mewujudkan target outcome, maka kegiatan pelatihan itu saja tidak cukup. Diperlukan kegiatan pemberian bantuan modal kerja, kegiatan penyediaan bibit unggul ikan air tawar, kegiatan fasilitasi penyediaan pakan ikan air tawar, serta kegiatan lain yang terkait dengan upaya peningkatan kemudahan pembukaan usaha baru, khususnya usaha ikan air tawar.

    Dari tabel di atas juga terlihat bahwa untuk mewujudkan target capaian program, maka kegiatan pelatihan itu saja tidak cukup. Diperlukan kegiatan penguatan kemitraan usaha ikan air tawar tersebut dengan usaha yang berbahan baku ikan air tawar, kegiatan fasilitasi ekspor ikan air tawar, serta kegiatan lain yang terkait dengan peningkatan omset usaha, khususnya omset usaha ikan air tawar.

    Dari ilustrasi ini jelaslah bahwa pola OBB yang lazim dipraktekkan di daerah pun dapat mewujudkan target outcome dan target capaian program jika ada sinergi kegiatan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung, baik intra SKPD maupun antar SKPD. Dengan demikian, agar OBB lebih berhasil dan berdaya guna, maka koordinasi program dan kegiatan antar dan intra SKPD adalah pilihan wajib.

REKOMENDASI

Syarat-syarat di atas harus dipenuhi sehingga praktek penganggaran yang telah biasa menggunakan OBB dapat berhasil guna dan berdaya guna. Apakah kedua syarat di atas juga selalu dipenuhi saat menerapkan OBB? Ini merupakan pertanyaan yang perlu dikonfirmasikan. Tetapi sepanjang pengalaman penulis, kedua syarat di atas cenderung tidak diperhatikan. Bahkan di beberapa daerah, tolok ukur outcome dan capaian program tidak dideskripsikan. Ini merupakan salah satu kelemahan utama dalam implementasi Anggaran Kinerja.

Dalam artikel tentang Jenjang Akuntabilitas Kinerja kami merekomendasikan perlunya penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja yang Berjenjang sedemikian rupa sehingga dampak positif dari implementasi Anggaran Kinerja benar-benar dapat mengangkat kinerja SKPD dan Daerah secara keseluruhan dalam mewujudkan kewajibannya, yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat di Daerah.

Rekomendasi lain yang mendesak untuk segera ditindak lanjuti adalah penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Kita sangat berharap agar Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian SPM dan Juknis Penyusunan dan Penetapan SPM segera ditindaklanjuti. ***

About these ads
  1. Rusman R. Manik
    15 Februari 2008 pukul 4:02 pm

    Kapankah fase perencanaan RKA SKPD? Saat penyusunan RKA-SKPD atau saat penyusunan DPA-SKPD?

    Ini pertanyaan sederhana dan lucu. Tapi perlu ditekankan bahwa perencanaan RKA-SKPD dilakukan jauh-jauh hari sebelum APBD tahun yang direncanakan ditetapkan. Tidak pada saat penyusunan DPA SKPD.

    Bila perencanaan kegiatan (RKA) kita lakukan setelah APBD disahkan, maka sebenarnya kita tidak mengetahui detail dan urgensi kegiatan yang setujui. Sungguh ironis. Bagaimana kita bisa menganggarkan kegiatan yang tidak kita ketahui sama sekali? Perencanaan RKA ini sangat penting. Idealnya, pada fase perencanaan, kita sudah:

    • Yakin bahwa usulan kegiatan yang akan kita laksanakan memang penting (urgen). Paling tidak, di atas kertas buku perencanaan, kita telah mengetahui potensi tingkat ekonomis, efisiensi, dan efektifitas usulan kegiatan dalam merespon probortunities yang telah disepakati sebelumnya. Catatan: Probortunities = Problem dan atau Opportunities.

    • Mengetahui rangkaian aktivitas yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan target-target yang telah disepakati.

    • Mengetahui kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan upaya pencapaian target-target yang telah direncanakan pada usulan kegiatan.

    Lalu apakah tidak diperkenankan “merencanakan kegiatan” pada saat penyusunan DPA SKPD? Boleh saja bila frasa “merencanakan kegiatan diartikanmensinkronkan jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai Gantt Chart yang telah disusun jauh hari sebelum APBD ditetapkan

  2. Yuana
    19 Februari 2008 pukul 9:51 am

    Bagaimanakah detail penerapan OBB yang baik dan benar? Terima kasih

  3. Yuana
    29 Februari 2008 pukul 10:42 am

    Selamat siang. Di Daerah kami juga menggunakan OBB. Hingga hari ini lancar2 aja. Tapi kemarin, sempat ada diskusi kecil yang hangat. Beda pendapat tentang OBB atau ABK (Anggaran Berbasis Kinerja).

  4. Rusman R. Manik
    13 Maret 2008 pukul 9:51 pm

    Beberapa bacaan menarik tentang Output Based Budgeting atau Performance Based Budgeting.

    Secara sengaja, kami mencari materi-materi dalam format *.ppt. Mengapa? Karena materi dalam format tersebut umumnya lebih ringkas dan hanya memuat point-point penting saja (Power Point).

    Menurut kami, bentuk yang sedemikian lebih memicu rasa ingin tahu dan penguatan kemampuan analisis, elaborasi (pengembangan), dan padu-padan dengan konsep lainnya.

    Performance Budgeting and Accrual Budgeting

    Can Performance Budgeting Work?

    Performance Management: Budgeting for Outcomes and Costs

    Konsep Jenjang Akuntabilitas yang pernah ditayangkan di swadayaMANDIRI ini, juga diutarakan oleh Anwar Shah dalam paparannya tentang Budgeting For Results. Lihat paparannya pada slide ke 11 yang berjudul Output Accountability vs. Outcome Accountability .

    Seluruh materi paparan di atas didapatkan dengan meng-google menggunakan kata kunci "performance budgeting". Klik di sini untuk melihat semua hasil pencariannya.

    Kepada sidang pembaca, mohon kesediaanya untuk menambahkan link terkait dengan tulisan Output Based Budgeting atau Performance Based Budgeting. Sebelum dan sesudahnya, diucapkan Terima Kasih.

  5. Rusman R. Manik
    22 Maret 2008 pukul 12:54 am

    Output Based Budgeting = Penentuan (penghitungan) besar kebutuhan belanja sebuah kegiatan berdasarkan target output dari kegiatan yang bersangkutan

    Semakin besar target kinerjanya, semakin besar pula kebutuhan belanja. Hubungan sedemikian akan nampak jelas pada kegiatan-kegiatan fisik, seperti pembangunan jalan dan jembatan.

    Tetapi, apakah keduanya selalu berkorelasi (berhubungan) positif seperti itu? Adakah kemungkinan lainnya?

    Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan hubungan korelasi tersebut tidak positif, tetapi justeru negatif. Hal ini terutama terjadi pada kegiatan-kegiatan non fisik.

    1. Jalur aktivitas terpendek dan efektif untuk mewujudkan target output
    Sebuah kegiatan terdiri dari beberapa aktivitas yang saling bersambungan satu sama lain. Perencanaan memungkinkan ditemukannya jalur aktivitas alternatif yang mungkin lebih pendek dari pada jalur aktivitas konvensional. Bila pada proses perencanaan kita mampu menemukan jalur aktivitas alternatif yang lebih pendek, maka besar kemungkinan kebutuhan belanjanya akan lebih rendah dari pada biasanya. Dengan belanja yang lebih sedikit (murah), kita mendapatkan hasil yang sama.

    2. Target output diwujudkan dengan kegiatan alternatif
    Perencanaan juga memungkinkan kita untuk mengetahui cara alternatif untuk mewujudkan suatu target output tertentu.
    “Masyarakat sadar pola hidup sehat dan bersih”, misalnya, dapat diwujudkan dengan kegiatan a). sosialisasi PHBS oleh Dinkes; b). pelembagaan RT Sehat di masyarakat; c). Muralisasi bertema PHBS; d). pemampuan Arisan Ibu-ibu sebagai media belajar PHBS; dan kegiatan-kegiatan alternatif lainnya.
    Dengan memilih kegiatan yang paling tepat, dimungkinkan pewujudan target output dengan belanja (biaya) yang lebih murah.

    PHBS = Pola Hidup Bersih dan Sehat

  6. Samsul
    3 Oktober 2009 pukul 2:50 pm

    Sangat menarik Output Based Budgetingnya. Mohon izin untuk dijadikan modul pelatihan ya. Terima kasih.

  7. 3 Oktober 2009 pukul 2:53 pm

    Hehehe … lanjutkan mas.
    Jangan lupa sumbernya ya.

  8. ika
    23 Maret 2010 pukul 6:50 pm

    Menarik sekali penjelasan bpk…dan situs bpk memang sering saya baca….
    tetapi ada unek2 yg mgkn dulu pernah sy utarakan.. jka banyak faktor yg mempengaruhi bgmn rumus menghitung pencapaian outcome dan pencapaian program? kok semakin ruwet saja ya pak… mohon penjelasan..terimakasih….

  9. 23 Maret 2010 pukul 10:36 pm

    Terima kasih atas kunjungan Ibu Ika. Jangan bosan ya. Soalnya udah jarang update juga nih kecuali hanya beberapa gambar-gambaran semata. ;-)

    Where there is a WILL, there is a way. Dimana ada KEMAUAN, disitu (mudah-mudahan) ada jalan.

    Apakah SKPD punya KEMAUAN yang kuat untuk mewujudkan target yang tersebut pada OUTCOME dan CAPAIAN PROGRAM?
    Ini pertanyaan awal yang sangat menentukan langkah selanjutnya.

    Menurut saya sih, banyak Bapak dan Ibu di SKPD yang sudah tahu bagaimana cara supaya hal tersebut tercapai. Kalau kita kumpulkan dan kita berlokakarya ria, pastilah metode, tips dan prosedurnya bisa kita bangun.

    Salah satu cara alternatifnya bisa dilihat pada tulisan: http://swamandiri.wordpress.com/2008/01/18/jenjang-akuntabilitas-kinerja/

    Tetapi, kembali lagi nih, apakah kita mau? Takutnya, kita pada tidak mau nih. Indikasinya: kita seringkali memilih kegiatan2 yang enak2 aja, tanpa mau sedikit agak capek supaya target yang disebut pada OUTCOME dan CAPAIAN PROGRAM benar2 terwujud.

    Tapi okelah, kita kembali ke pertanyaan Ibu Ika. Bagaimanakah caranya ya?

    Menurut saya:

    1. Jenjang akuntabilitas harus diterapkan. Perlu ada kejelasan, siapa di SKPD yang akan bertanggungjawab untuk mewujudkan target output, target Outcome dan target Capaian Program.

    2. Harus SMART. Ada OUTCOME dan CAPAIAN PROGRAM yang terlalu ambisius sehingga sulit untuk diwujudkan. Karenanya, kita perlu check kembali target2 tersebut. Ambisiuitas sih bagus, tetapi biasanya merusak akuntabilitas.

    Jadi, baik juga untuk memikirkan kembali target outcome dan target capaian program. Baiknya, target tersebut tetap menantang, tetapi tetap harus dapat diwujudkan. Ciri SMART pada indikator dan target kinerja di tingkat outcome dan capaian program tetap harus kita perhatikan.

    3. Check and recheck.Check kembali usulan program dan kegiatan kita. Jangan lagi asal-usul ya. Baiknya, kegiatan2 tersebut mengerucut untuk mewujudkan target outcome dan capaian program. Usulan2 yang tidak nyambung dengan target tersebut, kita tunda saja dulu.

    4. Koordinasi dan komunikasi antar SKPD. Umumnya, target pada CAPAIAN PROGRAM tiak dapat diwujudkan hanya dengan 1 kegiatan. Kadang membutuhkan beberapa kegiatan dari beberapa SKPD. Maka, komunikasi dan koordinasi menjadi sangat penting artinya.

    5. Catatan atas Laporan Kinerja. Kalau dalam Laporan keuangan ada CALK, maka tidak salah juga bila pada Laporan Kinerja kita buatkan juga CALK-nya. Catatan2 seperti ini perlu karena memang ada beberapa outcome dan capaian program yang tidak dapat diwujudkan secara segera dalam 1 tahun anggaran.

    Kira2 begitu Ibu Ika. Normatif ya. Tapi sepertinya udah lumayan cukup. Terpenting adalah MAUKAH KITA?

  10. marya pasaribu
    11 Juli 2012 pukul 2:14 pm

    pak..bisa tlong bantu saya kasih masukkan mengenai jdul laporan saya terkait DPA-SKPD..saya masih bingung pak dengan DPA-SKPD..dan apakah saya bisa membahas DPA-SKPD tanpa RKA-SKPD??

    • 12 Juli 2012 pukul 9:06 pm

      Apa ya? Tapi coba di analisis perbedaan NILAI dan KEGIATAN antara DPA-SKPD dengan RKA-SKPD.

      Idealnya, keduanya sama tuh. Nah akan sangat menarik jika kita mengetahui ada tidaknya perbedaan antara keduanya.

  1. 12 Mei 2010 pukul 1:43 am

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 941 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: