Beranda > E-Learning, Ekonomi > Amartya Sen

Amartya Sen

“No substantial famine has ever occurred in any independent and democratic country with a relatively free press” – Amartya Sen

Sepanjang dua puluh lima tahun terakhir di abad ke-20, Amartya Sen adalah figur utama dalam ekonomi kesejahteraan dan pembangunan ekonomi. Sen memperluas gagasan para ahli ekonomi tentang kesejahteraan manusia sehingga mencakup tidak hanya konsumi tambahan tetapi juga pengembangan potensi manusia.

Sen juga mempelajari bagaimana keterbelakangan sangat mempengaruhi perempuan dan berpendapat bahwa ahli ekonomi yang mempelajari perkembangan ekonomi perlu memfokuskan diri pada pengembangan kesempatan bagi manusia.

Tema utama karya Sen adalah pentingnya pengembangan potensi manusia. Bagi Sen, ekonomi seharusnya lebih mengembangkan kemampuan yang melekat dalam diri manusia, dan memperbanyak opsi yang terbuka untuk mereka, ketimbang berusaha memproduksi lebih banyak barang atau memahami bagaimana cara untuk memaksimalkan kepuasan. Konsekuensinnya, dia sangat kritis terhadap ekonomi kesejahteraan tradisional yang menganggap bahwa perdagangan bebas dapat memaksimalkan kesejahteraan individu yang rasional.

Sen menolak asumsi rasionalitas manusia dan juga menolak Pareto Optimal sebagai kriteria bagi kesejahteraan ekonomi. Inti asumsi rasionalitas adalah keyakinan bahwa individu adalah orang yang memaksimalkan kepuasan secara rasional. Kebanyakan ahli ekonomi yakin bahwa individu bertindak menurut cara yang sangat rasional dan logis. Mereka melihat orang-orang mencoba mengetahui konsekuensi dari tindakan yang berbeda-beda dan memikirkan kepuasan yang mereka terima dari hasil setiap tindakan. Mereka percaya bahwa orang-orang bertindak untuk mendapatkan kepuasan maksimal (yang diharapkan), dan dengan membiarkan orang bertindak dengan cara seperti ini akan membawa pada situasi Pareto Optimal. Sen (1976–1977) mengkritik pandangan ini dengan sejumlah alasan.

Sen berpendapat bahwa maksimalisasi kepuasan merupakan deskripsi yang buruk tentang bagaimana sebenarnya orang berperilaku. Sebagai contoh, individu tidak mengharapkan keuntungan dari voting dalam pemilihan politik. Peluang bahwa suara Pak Ali akan menentukan hasil pemilihan adalah sangat kecil. Sepertinya, kemungkinan bahwa Pak Ali tersambar petir saat antri memberikan suara, akan lebih besar daripada kemungkinan bahwa suaranya menentukan hasil pemilihan tersebut. Walaupun tidak akan menentukan hasil pemilihan, Pak Ali tetap memberikan suara secara teratur; demikian juga dengan orang lain. Dalam hal ini, Pak Ali memberikan suaranya bukan untuk menaikkan kepuasannya, tapi karena mereka menghargai sistem politik tertentu (demokrasi) dan jenis aktivitas politik tertentu.

Sen juga mengatakan bahwa jika orang benar-benar bertindak menurut asumsi rasional maka mereka akan menjadi ”orang bodoh yang rasional” karena tindakan mementingkan dirinya sendiri dapat membawa pada beberapa akibat yang absurd.

”Dimanakah stasiun kereta api?”, dia bertanya pada saya. ”Di sana”, kata saya sambil menunjuk kantor pos, ”dan maukah anda mengeposkan surat ini untuk saya saat anda melaluinya?”,”ya”, jawabnya, dengan membuka amplop dan melihat apakah surat ini berisi sesuatu yang berharga atau tidak (Sen 1976-7, hlm.332). Setiap orang, atau jenis orang yang ingin menjadi bagian dari suatu masyarakat tentunya akan meninggalkan interaksi seperti ini.

Lebih jauh, Sen(1985, 1987) memperlihatkan bahwa menggunakan Pareto Optimal sebagai kriteria kesejahteraan mengandung beberapa persoalan. Dia mengemukakan bahwa hasil tindakan ekonomi bisa saja berupa Pareto Optimal tetapi justru menimbulkan bencana. Misalnya, dalam kasus dimana hanya ada segelintir orang kaya dan banyak orang lain yang kelaparan. Kondisi ini bisa saja merupakan kondisi Pareto Optimal, karena situasi tidak dapat diperbaiki tanpa mengambil pendapatan dari orang yang sangat kaya dan mengurangi kepuasan mereka. Namun, banyaknya orang yang kelaparan jelas bukan hal yang diinginkan!

Sen (1970) juga berpendapat bahwa maksimalisasi kepuasan justeru bertentangan dengan liberalisme, atau keyakinan bahwa orang seharusnya dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan selama tidak menghalangi apa yang ingin dilakukan orang lain. Jika banyak orang menginginkan pornografi dihapus, maksimalisasi kepuasan juga mensyaratkan pornografi harus dihapus. Demikian juga kebalikannya, jika banyak orang lebih suka kalau setiap orang membaca novel pornografi, maksimalisasi kepuasan menuntut pornografi dipaksakan pada orang-orang. Tetapi apakah akan kita paksakan setiap orang membaca novel pornografi? Maksimalisasi kepuasan tidak tepat, tetapi kebebasan memungkinkan tiap individu membuat keputusannya sendiri.

Karena analisis utilitarian tentang kesejahteraan individu tidak memadai, maka diperlukan perspektif yang lain. Sen mengusulkan pendekatan yang berpusat pada kemampuan (lihat McPherson 1992). Menurut perspektif ini, kesejahteraan manusia tergantung pada hal-hal yang dapat orang-orang lakukan dengan baik. Kesejahteraan manusia akan maksimum ketika mereka dapat membaca, makan, dan dapat memberikan hak suaranya.

Lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Capability_approach

Kemampuan membaca penting bukan karena kepuasan yang dihasilkannya, tapi karena apabila orang dapat membaca, maka ia bisa membentuk kepribadiannya. Makan dihargai bukan karena orang suka makanan, tetapi karena makanan penting untuk kehidupan dan kesehatan. Dan orang memberikan suaranya bukan untuk menaikkan kepuasannya, tapi karena mereka menghargai sistem politik tertentu (demokrasi) dan jenis aktivitas politik tertentu.

Bagian penting dari kesejahteraan manusia adalah jumlah dari pilihan yang dipunyai orang dan kebebasan untuk memilih diantara pilihan-pilihan tersebut. Hal ini berarti bahwa ketika konsumen membeli barang tapi tidak punya pilihan, kesejahteraan konsumen dapat ditingkatkan dengan memberi lebih banyak pilihan, bahkan jka konsumen pada akhirnya tidak mendapatkan lebih banyak barang.

Sen bahkan melangkah lebih jauh dengan mengemukakan bahwa ekonomi tradisional mempunyai hubungan antara preferensi dan tindakan ke belakang – preferensi tidak menentukan tindakan manusia. Orang tidak menghargai buta huruf lalu kemudian memutuskan tidak belajar membaca. Justru orang yang tidak dapat membaca menyesuaikan preferensinya dan tidak menghargai kemampuan membaca. Menurut doktrin kepuasan standar, karena preferensi individu dihargai lebih dari apa pun juga, maka kesejahteraan menjadi maksimum jika orang buta huruf tidak didorong untuk belajar membaca. Tapi bagi Sen, tingginya tingkat bebas buta huruf akan meningkatkan kesejahteraan manusia karena memperbesar peluang orang dan meningkatkan kemampuannya.

Sen menerapkan pendekatan kemampuan pada bidang pengembangan ekonomi. Usaha ini dimulai dengan membedakan antara pertumbuhan ekonomi dengan perkembangan ekonomi. Pertumbuhan berarti memproduksi lebih banyak barang terlepas dari apa yang terjadi pada orang-orang yang memproduksi dan mengkonsumsi barang-barang ini; sedangkan perkembangan meliputi ”pengembangan kemampuan manusia” (Sen 1984, hlm.497). Pertumbuhan ekonomi menaikkan pendapatan per kapita. Perkembangan ekonomi meningkatkan harapan hidup, bebas buta huruf, kesehatan dan pendidikan masyarakat. Ini berarti membuat orang menjadi bagian dari komunitas dan memungkinkan mereka muncul di publik tanpa merasa malu karena mereka akan dianggap sebagai individu yang berguna.

Pertumbuhan dan perkembangan sering berjalan bersama. Tetapi seperti yang diilustrasikan oleh pengalaman negara-negara seperti China, Sri Lanka, dan Costa Rica, kebijakan publik yang tepat dapat meningkatkan kemampuan dan peluang meskipun angka pertumbuhan ekonominya rendah. Ketika negara sedang berkembang harus memutuskan apakah harus memfokuskan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi ataukah pengembangan kemampuan, Sen berpendapat negara seharusnya memfokuskan pada tujuan yang nyata, yaitu pengembangan potensi manusia. Lagi pula, kesuksesan perkembangan ekonomi seharusnya dinilai berdasarkan meingkatnya tingkat warga yang bebas buta huruf dan harapan hidup ketimbang berdasarkan pertumbuhan dalam produksi atau tingkat pendapatan.

Referensi dan bacaan terkait:
Fifty Major Economists
http://en.wikipedia.org/wiki/Human_development_theory
http://en.wikipedia.org/wiki/Amartya_Sen
http://en.wikipedia.org/wiki/Capability_approach
http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_paradox
Human Development Report 2007/2008
Technical note explaining the definition of the HDI
Amartya Sen: The Possibility of Social Choice (Nobel lecture)
Clark, David A. (2005) ‘Capability Approach’ in D. A. Clark (ed.) (forthcoming 2006) The Elgar Companion to Development Studies (Edward Elgar, Cheltenham). Draft available online at http://www.gprg.org/pubs/workingpapers/pdfs/gprg-wps-032.pdf

  1. staf
    31 Januari 2008 pukul 2:16 pm

    SEDANG DITERJEMAHKAN SECARA BEBAS!

    Capability Approach is a conceptual framework developed by Amartya Sen and Martha Nussbaum for evaluating social states in terms of human well-being (welfare).

    Pendekatan Kapabilitas adalah kerangka kerja konseptual yang dibangun oleh Amartya Sen dan Martha Nussbaum untuk menilai keragaan (baik buruk) kondisi sosial suatu negara dalam kerangka human well-being (kesejahteraan).

    It emphasizes functional capabilities (“substantial freedoms”, such as the ability to live to old age, engage in economic transactions, or participate in political activities); these are construed in terms of the substantive freedoms people have reason to value, instead of utility (happiness, desire-fulfilment or choice) or access to resources (income, commodities, assets).

    Pendekatan ini menekankan aspek peningkatan kapabilitas fungsional dibanding peningkatan utiliti (kesenangan, kebutuhan yang terpenuhi or atau pilihan) atau peningkatan akses ke sumberdaya (income, commodities, assets)

    Poverty is understood as capability-deprivation. It is noteworthy that the emphasis is not only on how human beings actually function but on their having the capability, which is a practical choice, to function in important ways if they so wish.

    Someone could be deprived of such capabilities in many ways, e.g. by ignorance, government oppression, lack of financial resources, or false consciousness.

    This approach to human well-being emphasises the importance of freedom of choice, individual heterogeneity and the multi-dimensional nature of welfare. In significant respects, the approach is consistent with the handling of choice within conventional micro-economics consumer theory although its conceptual foundations enable it to acknowledge the existence of claims, like rights, which lexicographically dominate utility based claims (see Sen (1979)).

    The approach is first fully articulated in Sen (1985) and discussed in Sen and Nussbaum (1993). Applications to development are discussed in Sen (1999), Nussbaum (2000), Alkire (2002) and Clark (2002, 2005), to health in a special issue of Social Science and Medicine edited by Anand P and Dolan P (2005) and to the econometrics of social indicators/policy by Anand P Hunter G and Smith R (2005) and Kuklys (2005).

    Nussbaum (2000) frames these basic principles in terms of ten capabilities, i.e. real opportunities based on personal and social circumstance. This approach contrasts with a common view that sees development purely in terms of GNP growth, and poverty purely as income-deprivation.

    It has been highly influential in development policy where it has shaped the evolution of the human development index HDI has been much discussed in philosophy and is increasingly influential in a range of social sciences.

    The ten capabilities are:

    1. Life. Being able to live to the end of a human life of normal length; not dying prematurely, or before one’s life is so reduced as to be not worth living.

    2. Bodily Health. Being able to have good health, including reproductive health; to be adequately nourished; to have adequate shelter.

    3. Bodily Integrity. Being able to move freely from place to place; to be secure against violent assault, including sexual assault and domestic violence; having opportunities for sexual satisfaction and for choice in matters of reproduction.

    4. Senses, Imagination, and Thought. Being able to use the senses, to imagine, think, and reason– and to do these things in a “truly human” way, a way informed and cultivated by an adequate education, including, but by no means limited to, literacy and basic mathematical and scientific training.

    Being able to use imagination and thought in connection with experiencing and producing works and events of one’s own choice, religious, literary, musical, and so forth. Being able to use one’s mind in ways protected by guarantees of freedom of expression with respect to both political and artistic speech, and freedom of religious exercise. Being able to have pleasurable experiences and to avoid non-beneficial pain.

    5. Emotions. Being able to have attachments to things and people outside ourselves; to love those who love and care for us, to grieve at their absence; in general, to love, to grieve, to experience longing, gratitude, and justified anger. Not having one’s emotional development blighted by fear and anxiety. (Supporting this capability means supporting forms of human association that can be shown to be crucial in their development.)

    6. Practical Reason. Being able to form a conception of the good and to engage in critical reflection about the planning of one’s life. (This entails protection for the liberty of conscience and religious observance.)

    7. Affiliation.
    a). Being able to live with and toward others, to recognize and show concern for other human beings, to engage in various forms of social interaction; to be able to imagine the situation of another. (Protecting this capability means protecting institutions that constitute and nourish such forms of affiliation, and also protecting the freedom of assembly and political speech.)

    b). Having the social bases of self-respect and non-humiliation; being able to be treated as a dignified being whose worth is equal to that of others. This entails provisions of non-discrimination on the basis of race, sex, sexual orientation, ethnicity, caste, religion, national origin.

    8. Other Species. Being able to live with concern for and in relation to animals, plants, and the world of nature.

    9. Play. Being able to laugh, to play, to enjoy recreational activities.

    10. Control over one’s Environment.
    a). Political. Being able to participated effectively in political choices that govern one’s life; having the right of political participation, protections of free speech and association.

    b). Material. Being able to hold property (both land and movable goods), and having property rights on an equal basis with others; having the right to seek employment on an equal basis with others; having the freedom from unwarranted search and seizure. In work, being able to work as a human being, exercising practical reason and entering into meaningful relationships of mutual recognition with other workers.

    Sumber:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Capability_approach

  2. 24 Maret 2009 pukul 1:44 pm

    Hiya, i have seen your site when searching a few weeks ago and i really love the design! I just bought a new 3 character domain (cost me a packet) for a niche review blog, and i was wondering if your design is a free or paid one? I’m new to WordPress and about to set it up, and i would really like to get something with a similar look to yours. Any ideas where i could download or buy something similar? Thanks for your help!🙂

  3. 21 Mei 2009 pukul 1:18 am

    I’ve been lurking for a while and wanted you to know I enjoy reading your articles.

  4. Manotar Tampubolon
    9 Juli 2010 pukul 6:34 pm

    I am very interested to read the article by prof. Sen especially those involving human rights. There should be the Sen next generation who really pay attention and fighting for civil rights enforcement.

  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: