Beranda > Diskusi, Perencanaan Pembangunan > Bersahabat dengan Lonjakan Harga

Bersahabat dengan Lonjakan Harga

Ahmad Ma'rufDalam dua tahun terakhir, masyarakat Indonesia pada umumnya terus bergulat dengan lonjakan harga. Geliat harga umum yang terus meningkat ini, biasa disebut inflasi, telah menguras habis daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. Tidak tabu lagi, semakin banyak warga yang terus terang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Mengawali tahun 2008 ini, masyarakat menanggung lonjakan harga barang umum yang jauh melampaui kenaikan pada beberapa tahun sebelumnya. Tercatat oleh BPS, pada Januari 2008 telah terjadi kenaikan harga sebesar 1,77 persen. Dibandingkan dengan harga umum bulan Januari 2007, pada bulan ini telah terjadi kenaikan sebesar 7,36 persen. Angka inflasi ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada periode ini, tidak satu pun kota besar di Indonesia yang luput dari lonjakan harga. Di Yogyakarta, laju inflasi bulan ini sebesar 1,25 persen. Inflasi kali ini benar-benar berdampak pada masyarakat luas. Tidak saja pada warga biasa, namun juga pada masyarakat kelas menengah dan atas. Dalam dua bulan ini, harga pangan terus membuncit. Menurut Imam Sugema (2008), pada periode 2004-2007, kenaikan harga pangan sudah sebesar 1,5 kali lipat dari kenaikan inflasi. Sepanjang tahun 2007, inflasi bahan makanan mencapai 11,6 persen, sedangkan rata-rata inflasi kelompok komoditi lain sebesar 6,59 persen.

Pola inflasi di negeri kita yang biasanya bersifat konjungtur (turun-naik-turun), namun dalam dua tahun terakhir, terus terjadi trend yang meningkat. Intensitas kenaikan harga tersebut menjadi “lampu merah” bagi pengambil kebijakan apabila ingin mempertahankan kepercayaan masyarakat atas kabinet sekarang ini dalam memberi rasa nyaman pada warganya yang terus tergerus kesejahteraanya. Ataukah, momentum ini akan menjadi titik akhir kepercayaan publik pada para pejabat yang masih saja mempertahankan gaya glamour dalam kesehariannya.

Pada saat masyarakat terhimpit kenaikan harga, khususnya bahan makanan seperti beras, tepung terigu, minyak goreng, dan bahan makanan lainnya, masih saja para elit politik saling ledek dengan banyolan “poco-poco” dan “dansa”. Padahal masyarakat merasakan sekarang ini tarian yang baru dimainkan tidak lebih sebuah jathilan, banyak yang berpolah namun tidak sadar alias kesurupan. Komunikasi politik yang sangat kekanak-kanakan dan tidak produktif.

Merespon kondisi ini, dengan cepat pemerintah mengeluarkan paket kebijakan. Semoga kebijakan kali ini benar-benar menguntungkan rakyat dan bukan segelintir pelaku usaha bidang pangan, khususnya importer. Kekhawatiran ini sangat wajar muncul karena dalam paket kebijakan lebih menekankan pada liberalisasi perdagangan. Kebijakan jangka pendek yang diambil antara lain: para importer mendapat diskon, bea masuk impor beras dari 550 rupiah per kilogram menjadi 450 rupiah. Pada komoditi terigu menjadi nol persen bea masuk. Bahkan, pajak pertambahan nilai (PPN) komoditas ini menjadi pajak yang ditanggung pemerintah (DTP). Demikian halnya dengan komoditas kedelai. Sementara, laju ekspor minyak sawit mentah (CPO) ditahan dengan tarif progresif. Selain kebijakan jangka pendek, juga diluncurkan kebijakan jangka menengah dan jangka panjang.

Nilai stimulan untuk stabilisasi harga bahan pangan tersebut di atas mencapai 13,7 trilyun. Angka stimulan APBN 2008 yang tidak sedikit tersebut diharapkan benar-benar dirasakan dampaknya pada masyarakat luas. Mencermati pola importer bahan pangan yang cenderung berstruktur kartel memunculkan keraguan publik atas efektivitas kebijakan tersebut karena kendali pasar berada ditangan importer. Namun, jika pemerintah benar-benar mampu mengawal kebijakan ini dan berdaya sehingga berani tegas pada pelaku bisnis yang bersikap aji mumpung atas kondisi sekarang ini, maka kebijakan jangka pendek mungkin akan bermanfaat bagi publik.

Hal lain yang sebenarnya bisa dilakukan oleh masyarakat luas dalam mensikapi lonjakan harga ini antara lain berupa pola konsumsi dan produksi yang saling menanggung. Sekarang ini, banyak orang yang mengajurkan pola hidup “hemat” untuk merespon lonjakan harga. Sikap hemat banyak yang diujudkan dalam bentuk pengurangan nilai belanja dan sangat selektif dalam memilih berbagai barang kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya. Kondisi pola konsumsi tersebut, jika berlaku secara massif mungkin justru tidak membantu pada kelompok masyarakat lain yang dalam posisi produsen, termasuk pedagang.

Akibat lonjakan bahan baku, banyak pedagang gorengan, usaha tempe, tahu, susu kedelai, roti, dan usaha lain yang terkait dengan makanan banyak yang mengalami penurunan produksi. Bahkan berdampak pada pengurangan tenaga kerja, baik yang merumahkan karyawan secara permanen ataupun PHK sementara waktu sambil menunggu membaiknya situasi bisnis. Kondisi ini, apabila terjadi berlarut juga akan merugikan masyarakat luas, baik dari sisi berkurangnya pilihan konsumsi ataupun hilangnya kesempatan kerja.

Pola konsumsi dan produksi yang saling menanggung sudah saatnya lebih dibangun. Egoisme konsumen ataupun produsen dilebur dalam pola interaksi yang wajar. Bagi kita yang gandrung gorengan, lauk tahu, tempe, minum susu, dan konsumsi lainnya, termasuk pemenuhan kebutuhan sandang dan hiburan, maka dalam kondisi lonjakan harga ini lebih baik jangan disikapi dengan pengurangan nilai konsumsi. Masyarakat justru perlu mempertahankan pola konsumsi sebagaimana kondisi semula. Hal ini, selain tidak mengurangi “rasa sejahtera” juga akan membantu kelangsungan usaha para produsen makanan dan sandang. Kondisi ini sudah sewajarnya dilakukan lebih intensif oleh kelompok masyarakat menengah ke atas. Saatnya berbagi untuk mengurangi tabungan dengan mempertahankan konsumsi yang berbasis pada produksi domestik.

Pada sisi lain, para produsen makanan dan pakaian juga bersikap untuk bijak. Untuk meredam harga jual, produsen lebih baik tidak menaikkan harga dalam arti nilai nominal yang meningkat. Namun, lebih baik mengubah ukuran sehingga harga tetap terjangkau oleh konsumen. Pada produk sandang, mungkin standar bahan yang diturunkan ataupun pengurangan asesoris sehingga harga jual produk akan bisa tertahankan. Pada umumnya, warga sekarang dalam melakukan konsumsi bukan berorientasi pada kuantitas namun lebih bagaimana mempertahankan “kebiasaan” dalam konsumsi.

Penyelarasan pada langkah makro dan mikro, dimana pemerintah lebih fokus dalam mengawal kebijakan stimulan jangka pendek, menengah, dan panjang dan tidak asik meladeni pancingan lawan politik. Sementara, masyarakat umum bersikap saling berbagi dalam merasakan beban dengan membangun pola konsumsi dan produksi yang saling menanggung maka gejolak harga ini secara perlakan akan reda. ***

Ahmad Ma’ruf, SE, M.Si, dosen Prodi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti Inspect.

Tag:
  1. Rusman R. Manik
    9 Februari 2008 pukul 3:19 am

    Komentar berikut tidak menawarkan solusi. Hanya sedikit berbagi uneg-uneg semata.

    "Bersahabat dengan lonjakan harga" bisa juga diartikan bahwa produsen dan konsumen mulai untuk selalu secara sistematis memasukkan ekspektasi lonjakan harga pada kalkulasi keputusannya. Tanpa ada jaminan ketersediaan komoditi, produsen cenderung menahan dan menimbun untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Bagi konsumen justeru sebaliknya. Mereka berusaha sedapat mungkin mendapatkannya, sekarang juga, untuk memenuhi persediaan agar potensi pembengkakan belanja di masa yang akan datang terkendali. Tarik menarik diantara produsen dan konsumen kemudian mendorong eskalasi kenaikan harga yang lebih intensif dan meluas pada berbagai komoditi. Hyperinflation terjadi!

    Pada titik yang lebih ekstrim, eskalasi harga itu tidak lagi didasari motif untuk mendapatkan laba. Tetapi sekedar didorong oleh motivasi untuk dapat bertahan hidup! Sungguh sebuah kondisi yang mengerikan. Kepanikan dimana-mana sehingga suasana menjadi kacau balau dan dapat mengarah ke suasana anarkis.

    Uraian di atas dapat saja dianggap sebagai dramatisasi dampak inflasi bagi peradaban manusia. Tetapi, the way we see the problem is the problem (Stephen Covey). Boleh beda sudut pandang. Tetapi mohon diingat bahwa pada kasus tertentu, beda sudut pandang bisa mengakibatkan beda arti penting (urgensi) atas suatu masalah. Bila berpandangan bahwa uraian di atas hanyalah sebuah dramatisasi maka sikap dan tindakan kita relatif kurang peduli sampai kemudian terbukti bahwa masalah tersebut adalah masalah urgen untuk segera di respon; karena ternyata dapat berpotensi merusak peradaban umat manusia!

    Tetapi, bisa saja terjadi bahwa permasalahan ini tidak diantisipasi karena ternyata intellectuals solve problems, geniuses prevent them (Albert Einstein). Karenanya, umum dimana-mana bahwa kebijakan pemerintah seringkali reaktif. Seperti pemadam kebakaran; kasus kebakaran harus terjadi terlebih dahulu sehingga ia secara sukarela keluar untuk memadamkannya.

    Barangkali juga ini adalah "kodrat" pemerintah, seperti yang disebut oleh John Fitzgerald Kennedy bahwa my experience in government is that when things are non-controversial and beautifully coordinated, there is not much going on. Atau seperti ungkapan umum Kalau bisa susah, mengapa harus dipermudah!

    Krisis telah terjadi. Ini adalah bukti nyata sebagai latar belakang proposal untuk meresponnya. Merilee S. Grindle menyebutkan bahwa we have seen considerable evidence that economic crises – particularly crises associated with inflation, hyperinflation, and foreign exchange shortages – are powerful stimuli for reform initiatives. Inflasi yang tak terkendali ini dapat mengarah pada hyperinflation sehingga merusak peradaban umat manusia.

    Analog dengan kutipan dari temporaryland.wordpress.com, bahwa WORSE THAN NOT KNOWING. Is not wanting to know. Faktor MAU sangat penting. Karena where there is a WILL, there is a way.

    Perubahan bersifat tetap (Heraclitus). Dan sekarang, perubahan sudah sangat turbulen sehingga sulit diprediksi. Tetapi saatnya untuk memikirkan kemungkinan bahwa the best way to predict the future is to invent it (Alan Kay). Dalam suasana perubahan yang turbulen di era globalisasi ini sangat susah memperbaiki keadaan jika kita hanya sebagai follower dan bersifat reaktif mengatasi masalah yang telah terjadi. Mari menjadi trend setter dan menciptakan masa depan kita sendiri sehingga kita benar-benar mandiri dalam suasana saling berketergantungan ini. Tidak perlu bersusah payah beradaptasi dengan perubahan yang semakin turbulen karena kita lah yang menentukan ke arah mana perubahan akan dibawa.

    Selain keMAUan, keMAMPUan perencanaan pun harus (semakin) diperkuat. Failing to plan is planning to fail (Alan Lakein) dan planning is bringing the future into the present so that you can do something about it now (Alan Lakein). Kita kerjakan sekarang juga, karena in the long run we are all dead (John Maynard Keynes).

    Peran serta para pihak sangat menentukan. Swadaya sekecil apapun sangat berguna sehingga semuanya fungsional menuju arah yang sudah benar pada pembukaan UUD 45. Kebersamaan ini sangat penting dan sebaiknya jangan hanya mengharap solusi dan menagih tanggungjawab pemerintah saja. Karena seringkali, seperti yang disampaikan oleh Milton Friedman, bahwa the government solution to a problem is usually as bad as the problem.

    Komentar ini juga di posting pada artikel berjudul Harga Pangan akan Turun ke Tingkat yang Wajar. Klik di sini untuk membacanya.

  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: