Beranda > Berita > Pekerjaan Rumah Domestik

Pekerjaan Rumah Domestik

Tajuk Rencana Kompas, Kamis, 16 Oktober 2008

kompas cetak

Amerika yang kolaps, kita yang panik dan babak belur. Kesan itu sempat muncul. Dunia tergambar serba suram mencekam. Psikologi kepanikan menyihir kita semua.

Langkah antisipasi dan respons cepat dan tepat memang sangat penting dan perlu karena bagaimanapun dampak krisis AS sebagai perekonomian terbesar tak bisa diabaikan. Pada saat yang sama, suasana tenang dan optimistis perlu tetap kita jaga, tetapi juga jangan sampai kita dibius dan terlena, serta bersikap seolah tak terjadi apa-apa (business as usual), karena akibatnya bisa fatal.

Dari pengalaman krisis sebelumnya, sikap pemerintah yang mengingkari adanya masalah atau bahaya besar terhadap ekonomi (denial) justru jadi bumerang.

Yang dituntut adalah respons yang cepat dan tepat, pas, tidak berlebihan, tepat waktu. Pemerintah harus bisa meyakinkan bahwa mereka tahu apa yang harus dilakukan dan menghindari kesan panik, tetapi pada saat yang sama terbuka mengenai kondisi riil yang dihadapi. Sebab, di situ kunci dari kredibilitas dan kepercayaan.

Lepas dari pentingnya langkah antisipasi dan respons cepat yang harus ditempuh, kita juga tak boleh melupakan tantangan dan pekerjaan lebih penting di dalam negeri. Jika mau jujur, hiruk-pikuk di pasar modal atau valas tak banyak menyentuh hidup rakyat kebanyakan karena investor pasar modal tak lebih dari sejuta orang.

Bagi rakyat biasa, yang lebih penting mungkin kesinambungan hidup sehari-hari: bagaimana mereka tetap bisa bekerja, makan, dan menyekolahkan anak-anaknya. Menjaga tetap berdenyutnya sektor riil, daya beli, stabilitas harga dan pasokan pangan, jadi faktor krusial.

Sejauh ini, yang kita lihat pemerintah hanya sibuk mengutak-atik pasar saham dan instrumen moneter perbankan. Kepentingan kita bukan hanya bagaimana bertahan hari ini, tetapi kesinambungan dan daya tahan ekonomi jangka panjang. Daya tahan di sini bukan hanya keuangan, tetapi juga perekonomian riil.

Persoalannya, selama ini terlalu banyak pekerjaan rumah yang kita abaikan. Seperti membenahi infrastruktur, memperbaiki iklim investasi, memperkuat basis ekonomi rakyat dan ekonomi dalam negeri secara keseluruhan. Kita lebih mendengarkan suara dari luar ketimbang aspirasi dalam sendiri.

Kita tak pernah membuat pemetaan dan menggarap secara serius potensi yang kita miliki sendiri. Pengalaman krisis sebelumnya, sektor yang mampu menjadi tumpuan dan penyelamat adalah pertanian, UMKM, dan sektor berbasis sumber daya alam.

Kita memiliki semua alasan untuk tetap optimistis. Ketergantungan kita pada ekonomi global tidak begitu besar. Kita juga memiliki aset dan sumber daya yang jika dikelola dan digarap dengan serius merupakan kekuatan yang luar biasa untuk bertahan dari krisis mana pun.

Sebagai bangsa, bersama kita bisa jika semua pihak mengerjakan dengan baik tugas masing-masing. Di situ kunci survival kita. Kita sudah berulang kali dihajar krisis, dan kita terbukti mampu melampauinya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: