Beranda > Artikel, Diskusi > Solusi Ajaib terhadap Kerentanan Rawan Pangan

Solusi Ajaib terhadap Kerentanan Rawan Pangan

RAWAN pangan sangat berbahaya. Dapat menjadi bencana sosial dan kemanusiaan serta prahara politik jika para elit pemerintahan tidak mampu menemukan solusi dan melaksanakan penanggulangannya.

solusi_umum_ketahanan_pangan

9 Tawaran Solusi Mengatasi Ketahanan Pangan di Indonesia

Akhir Mei 2010, Konferensi Dewan Ketahanan Pangan kembali digelar. Dihadiri oleh hampir seluruh bupati/walikota dan gubernur serta belasan menteri, konferensi tersebut boleh dikatakan cukup berhasil. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara berapi-api memberikan sambutan dan pengarahan tentang arti penting ketahanan pangan, walaupun Indonesia konon berhasil mencapai swasembada beberapa komoditas pangan.

Apakah tawaran solusi untuk mengatasi ketahanan pangan di Indonesia? Presiden SBY pada konferensi tersebut menyebutkan sembilan tawaran solusi untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan di Indonesia, yaitu:

  1. Sinergi kebijakan pemerintah pusat, daerah dan pelaku usaha,
  2. Peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, gula dan daging sapi,
  3. Sistem cadangan pangan dan distribusi pangan,
  4. Efisiensi rantai pasokan dan sistem logistik nasional,
  5. Penyempurnaan aturan main dan penanganan cepat untuk kejadian gizi kurang,
  6. Stabilitas harga pangan,
  7. Penganekaragaman konsumsi pangan,
  8. Sistem monitoring secara nasional yang efektif dan kredibel, dan
  9. Kombinasi intervensi pemerintah dan mekanisme pasar dalam pengendalian penawaran dan permintaan pangan.

Namun demikian, kerentanan terhadap rawan pangan tidak akan selesai begitu saja melalui sembilan tawaran solusi di atas. Para pemimipin di tingkat lapangan nampaknya masih perlu diingatkan terus-menerus, didampingi secara spartan untuk menerjemahkan wacana di atas menjadi solusi konkrit yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tidak terlalu berlebihan untuk memikirkan solusi yang lebih ajaib! Yaitu: sanksi sosial-politik yang tegas bagi pemimpin yang melalaikan ketahanan pangan, misalnya, terkena pemakzulan (impeachment) secara langsung.

Mari, wahai DPR, menyusun mekanismenya! Buatkan UU tentang pemakzulan (impeacment) bagi kepala daerah dan kepala pemerintahan (presiden) yang melalaikan ketahanan pangan.

Diringkas dan dimodifikasi-ringan dari: Solusi Ajaib terhadap Kerentanan Rawan Pangan

  1. 6 Juni 2010 pukul 11:08 am

    2 tahun yang lalu aku dengar kalau departemen pertanian termasuk salah satu departemen yang korup. Kalau pemerintah mau serius swasembada pangan, tdk ada yang sulit.

  2. 7 Juni 2010 pukul 9:45 am

    Terima kasih atas kunjungannya ya. Setuju bung; Kalau pemerintah mau serius swasembada pangan, tdk ada yang sulit. Gampang aja.

    Pertanyaan kita bersama adalah: mengapa pemerintah TIDAK MAU serius? Banyak penyebabnya ya. Tapi seperti yg disampaikan oleh Pak Bustanul Arifin, dalam tulisannya, salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada sanksi langsung bagi yang tidak berprestasi.

    Akibatnya …: jamannya jaman edan, yang edan tidak diapa-apakan. Malah harus edan supaya keduman (kebagian). Maka mending ikutan edan aja semuanya ya ….

    Harusnya, kondisi seperti itu harud dipecah dan dibuang pake sistem reward and punishment yg mantab

  3. jutaajrullah
    16 Juni 2010 pukul 11:17 am

    Bagus Artikelnya Pak.. Benar2 mencerahkan..
    Barangkali perlu juga keterlibatan industri-industri pangan untuk memaksimalkan peran mereka. Kalau pemerintah saja yang bekerja tidak akan mampu. Sudah kemampuannya terbatas, sarang koruptor pula. Makannya, Porsi sektor swasta perlu ditingkatkan pula supaya mekanisme pasar yang terbentuk bisa “sealamiah” mungkin. Kapasitas petani, nelayan, pekebun dan peternak kita juga harus ditingkatkan dengan mengandalkan kemampuan yang dimiliki industri-industri itu…

  4. Jhony
    23 Juni 2010 pukul 1:05 pm

    Haya iya nih. Dipecat aja kalau tidak mampu to. Masih banyak yg lain yg barangkali bisa.

    Tapi gimana ya caranya supaya yg pintar2 dan berintegritas bisa masuk jadi KDH? Mestinnya biaya jadi KDH (atau biaya ikut Pilkadal) dibuat rendah ya. Supaya gak mikir ngembalikan uang.

  5. jutaajrullah
    25 Juni 2010 pukul 2:35 pm

    Dengan sistem Pilkada langsung seperti sekarang, tidak mungkin bisa terpilih kalau tidak dengan modal yang segunung. Lagipula, jaman sekarang segala-galanya butuh uang. Apalagi kalau mau jadi Kepala Daerah. Dah Pasti butuh uang banyak.. SAya termasuk yg yakin, kalau para kepala daerah yang terpilih langsung itu hampir 100% pasti korupsi.. Agak miris memang. Tapi beginilah resiko demokrasi..

  6. 29 Juni 2010 pukul 9:15 am

    Setujah. Dalam sistem yg sekarang, sepertinya memang semuanya pada korup. Jamannya memang jaman edan, kalau tidak korup malah jadi aneh ya.

    Makanya perlu juga ya mereformasi sistem Pilkada. Diatur lagi supaya yg masuk jadi Balon dan akhirnya jadi KDH definitif benar2 orang yg mumpuni, bukan hanya yg populer (vote getter). Sekalian juga biaya pencalonannya dibuat murah sedemikian rupa sehingga, bahkan hanya blogger, pun bisa masuk secara gampang dalam kontestasi pemilukada.

    Trus ditutup dengan sistem akuntabilitas yg mantab sedemikian rupa sehingga tidak ada pilihan lain yg terbuka kepada KDH kecuali berprestasi.

    Mantab nih kayaknya. Kita “utak-atik” lagi UU paket politiknya supaya perekonomian dan kesejahteraan di daerah bisa lebih maju.

  7. Jhony
    4 Juli 2010 pukul 8:16 am

    Pak, kami sangat membutuhkan Permendagri tentang penyusunan APBD 2011. Mohon dikirimkan ke email

  8. 4 Juli 2010 pukul 11:08 pm

    @ Jhony

    Sama nih. Lagi nyari juga. Koq susah dapatnya ya. Hahahaha padahal Permendagri yg sangat ditunggu-tunggu dan sangat penting untuk sinkronisasi kebijakan pembangunan di tahun 2011.

    Lucunya lah negara kita nih ya

  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: