Beranda > Artikel, Diskusi, Kelembagaan, Perencanaan Pembangunan > Indonesia Negeri Importir

Indonesia Negeri Importir

Indonesia: Sang Importir ?!

Menarik mencermati editorial Media Indonesia tanggal 06 September 2010. Benarkah Indonesia adalah negeri importir? Bila benar, betapa bahayanya masa depan Indonesia. Barangkali, ini juga yang menyebabkan mengapa trikle down effect kurang besar atau malah tidak bekerja di perekonomian kita.

DALAM berbagai kesempatan, pemerintah dengan bangga menyebutkan bahwa ekonomi kita sedang melaju cukup baik. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6,0%, bahkan bisa 6,5%.

Di sektor keuangan, pertumbuhan kredit berada di kisaran 25% hingga 30% tahun depan. Itu berarti naik dari rata-rata 15% tahun lalu.

Akan tetapi, kinclong-nya indikator makroekonomi kita itu justru bertolak belakang dengan kondisi riil di lapangan. Tingkat pertumbuhan ekonomi itu belum mampu menyerap tambahan angkatan kerja yang mencapai sekitar 2,3 juta orang.

Bahkan, sejak pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN-China mulai 1 Januari lalu, daya saing industri kita kian tergerus. Itu karena barang impor, baik yang legal maupun yang ilegal, masuk melalui penyelundupan, kian merajalela dengan harga murah.

Industri kita yang masih terus disibukkan oleh kendala buruknya fasilitas infrastruktur dan rupa-rupa pungutan liar yang memicu biaya tinggi, kini terkapar oleh serbuan barang impor.

Celakanya, barang yang kita impor itu, bukannya tidak tersedia di dalam negeri, tapi semata-mata karena salah urus negara terhadap industri.

Kita pernah bangga menjadi anggota OPEC, organisasi pengekspor minyak. Namun, kini negeri ini sudah menjadi net importir minyak.

Bukan cuma itu. Kini kita menjadi pengimpor tekstil, pengimpor buah-buahan, bahkan garam pun impor. Padahal, beberapa dekade negeri ini dikenal sebagai penghasil tekstil jempolan. Tanah Air kita juga kaya akan aneka buah-buahan, yang saking melimpahnya, nama buah-buahan pun diabadikan sebagai nama kampung.

Begitu juga dengan garam. Produk sederhana dan murah. Apalagi, negeri ini dikenal sebagai negeri bahari dengan jumlah pantai melimpah yang panjangnya mencapai 95.181 kilometer, yang sangat cukup untuk memproduksi garam.

Namun, jangan tertawa jika mendapati fakta bahwa Indonesia tiap tahun membuang devisa lebih dari Rp500 miliar hanya untuk membeli garam. Tiap tahun, sedikitnya 1,5 juta ton garam diimpor. Legenda Madura sebagai Pulau Garam pun tinggal sejarah.

Maka, tidak mengherankan pula jika impor kita terus melaju. Impor bulanan kita naik dari US$5,9 miliar pada Februari 2009 menjadi US$9,5 miliar pada Februari 2010. Bahkan, pada Juni 2010, impor kita sudah mencapai US$11,7 miliar.

Adalah benar bahwa ekspor kita juga naik dalam setahun terakhir. Namun, kenaikannya belum signifikan, yakni dari US$7 miliar pada Februari 2009 menjadi US$12 miliar dalam empat bulan terakhir di 2010.

Kenaikan ekspor yang tidak sebanding dengan melonjaknya impor itu membuat surplus neraca perdagangan kita terkuras, dari US$2,5 miliar pada Februari 2009 menjadi hanya US$580 juta pada Juni 2010.

Jelas bahwa kondisi tersebut tidak bisa disikapi hanya dengan cara business as usual. Kondisi kita sudah darurat, karena itu butuh terobosan cerdas, amat cerdas, dan segera. Segeralah benahi infrastruktur, tunaikan janji pemangkasan birokrasi, dan–meski banyak yang pesimistis–berantaslah pungli penyebab ekonomi biaya tinggi.

Selain itu juga diperlukan keberanian yang lebih nekat dalam memaknai perdagangan bebas demi kepentingan negara sendiri. Pemerintah RI cenderung terlalu etis dan mengabaikan kenyataan bahwa perdagangan bebas menelan yang lemah. Sebab, di situ sejatinya bekerja prinsip homo homini lupus.

Pertanyaannya, sampai kapan negara ini kita biarkan menjadi negara importir, negara pecundang, negara yang dimakan negara lain?

Sumber: Media Indonesia

  1. Eko Noeg
    23 September 2010 pukul 9:29 pm

    Mungkin perlu belajar dari industri musik pak….

  2. 15 Oktober 2010 pukul 2:05 pm

    sampe koroptor bisa di berantas,.indonesia pasti akan lebih baik,dan lapangan pekerjaan akan terbuka lebar,.dan indonesia akan jadi negara eksportir,bukan negara importir,.

  3. 15 Oktober 2010 pukul 2:13 pm

    suatu negara berkembang bisa maju jika tidak ada koruptor di negara tsb,dan bisa membuka lap pekerjaan bagi para penganguran,.

  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: