Beranda > Artikel, Inovasi Kebijakan, Kemiskinan, Kesejahteraan Rakyat, Perencanaan Pembangunan, Sektoral > Peranan Jaringan Sosial dalam Pembangunan Ekonomi yang Inklusif

Peranan Jaringan Sosial dalam Pembangunan Ekonomi yang Inklusif

Oleh: Firmanzah, PhD

Pemikiran anak bangsa untuk mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif telah menjadi diskusi dalam berbagai forum publik. Banyak pihak mengulas dan memberikan kritik kepada pemerintah untuk membangun kebijakan yang mendorong ekonomi inklusif.

Keterbatasan pendanaan untuk investasi dalam proyek-proyek infrastruktur, suku bunga kredit modal kerja yang masih tinggi menjadi hambatan dalam implementasi berbagai kebijakan ekonomi yang inklusif.

Tulisan ini mengulas perspektif potensi jaringan sosial yang kita miliki dibandingkan mengulas berbagai kelemahan yang menjadi hambatan. Penulis ingin mengulas potensi jaringan sosial yang kita miliki sebagai modal sosial yang selama ini sudah terbukti memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia. Jaringan sosial ini memberikan kontribusi bagi daya saing produk industri kita dan menjadi solusi bagi keterbatasan pemerintah dalam membenahi iklim industri dalam negeri yang kondusif.

Pembangunan ekonomi yang inklusif pada dasarnya adalah pembangunan ekonomi yang dapat memberikan kontribusi bagi mayoritas rakyat Indonesia. Besarnya jumlah tenaga kerja Indonesia di sektor pertanian sering diasosiasikan sebagai sektor yang perlu didorong untuk membangun ekonomi yang inklusif. Selain sektor pertanian, banyak pihak yang sudah menyampaikan pentingnya peran UMKM dalam mendorong perekonomian Indonesia.

UMKM terbukti di tahun 1998 telah berhasil menopang perekonomian Indonesia yang ketika itu sedang krisis. Di dalam tulisan ini penulis akan fokus mengulas UMKM sebagai usaha dalam membangun ekonomi yang inklusif.

Penulis ingin menyampaikan bahwa kebijakan ekonomi yang memberdayakan masyarakat untuk mandiri (self sustain) merupakan kondisi yang sekarang kita butuhkan di tengah semaraknya kompetisi antar negara dan ancaman penetrasi berbagai produk dari luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Tantangan terberat yang dihadapi oleh industr kita terutama karena produk-produk impor dari luar negeri selain mempunyai keunggulan dalam harga juga mempunyai kualitas yang bersaing dengan harga produk sejenis hasil produksi dalam negeri.

Di satu sisi konsumen memang diuntungkan dengan banyaknya pilihan dan variasi harga serta kualitas yang ditawarkan. Terlepas dari itu semua, berbagai produk dan jasa yang ditawarkan oleh negara lain akan semakin membuat industri di tanah air kehilangan potensi pasar, bahkan dapat mengurangi konsumen yang sekarang sudah dimiliki karena mereka berpaling ke produk impor dari negara lain.

Pemerintah sudah melihat ini sebagai suatu tantangan di era globalisasi. Berbagai usaha juga sudah dilakukan untuk meningkatkan daya saing kita. Namun, permasalahan klasik yang kita hadapi dari dulu masih membutuhkan waktu untuk dapat diselesaikan.

Keterbatasan yang kita miliki dalam mendorong sektor UMKM dalam negeri sedikitnya ada beberapa hal. Pertama, tingginya suku bunga kredit modal kerja. Kedua, keterbatasan sumber daya manusia dalam pendampingan UMKM. Ketiga, kurangnya pemahaman dalam memetakan kluster, sehingga kebijakan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan pasar.

Berbagai permasalahan ini sudah kita hadapi dari jauh-jauh hari. Namun, sampai hari ini UMKM tetap survive dan, bahkan tetap menjadi tempat tenaga kerja kita memeroleh penghasilan.

Berdasarkan realita ini, maka penulis mengajukan argumentasi bahwa ada hal penting yang telah menjadi kekuatan kita dalam menghadapi persaingan. Kekuatan ini adalah jaringan sosial yang kita miliki di Indonesia. Jaringan sosial ini juga yang dapat memitigasi ketiga keterbatasan yang disampaikan sebelumnya.

Kredit investasi dan modal kerja sesuai laporan Bank Indonesia, April 2010, masih di kisaran 12,11 persen dan 12,89 persen. Suku bunga ini masih relatif besar dibandingkan dengan acuan suku bunga yang ditetapkan oleh BI.

Selain tingginya suku bunga kredit, proses pengajuan kredit juga masih menjadi kendala banyak UMKM di Indonesia. Gap tersebut dapat difasilitasi oleh peran anggota masyarakat yang mendistribusikan kredit modal kerja. Contohnya di pasar-pasar kita masih sering menemukan “tukang kredit” yang menawarkan jasa untuk meminjam uang.

Berbekal jaringan sosial dan kepercayaan pedagang di pasar ini memperoleh kredit modal kerja dengan proses administrasi yang sederhana. Rekomendasi dari teman atau keluarga sudah cukup untuk meyakinkan “tukang kredit” untuk meminjamkan dana bagi pedagang di pasar.

Menghadapi tantangan dan persaingan di era globalisasi ini, UMKM membutuhkan sharing pengalaman dan pengetahuan untuk meningkatkan daya saing produknya. Namun, sumber daya manusia yang dimiliki oleh pemerintah untuk memberikan penyuluhan dan pendampingan terbatas.

Gap ini yang juga difasilitasi oleh jaringan sosial masyarakat Indonesia. Berbekal hubungan kekeluargaan, mereka dapat melakukan diskusi dan berbagi best practice yang dimiliki oleh rekannya.

Aksesabilitas terhadap sumber informasi juga di-sharing kepada sesama relasi yang menjadi kongsi usaha. Berbekal ikatan emosional ini, maka akan tercipta hubungan kerja sama dalam menghadapi persaingan dari perusahaan atau pelaku usaha luar negeri.

Selain itu, jaringan sosial juga secara natural membangun komunitasnya sendiri di Indonesia. Perkembangan kluster secara mandiri ini yang dapat membantu tugas pemerintah untuk memetakan kluster dan membangun kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan setiap kluster.

Sebagai contoh pertumbuhan distro-distro di Bandung yang natural telah mencerahkan pemerintah daerah Bandung untuk membuat kebijakan yang kondusif bagi perkembangan Bandung sebagai kota tujuan untuk belanja. Akses jalan tol yang dibuka dari Jakarta ke Bandung adalah salah satu usaha pemerintah untuk mengakselerasi kemajuan di Kota Bandung.

Ada banyak daerah lain di Indonesia yang juga mulai berkembang dari inisiatif dan inovasi putra daerah dalam UMKM. Mereka memulai usaha ini secara tradisional kemudian secara bertahap bekerja sama dengan keluarga atau teman-teman membangun berbagai usaha lain yang menjadi komplemen usaha intinya.

Sebut saja daerah di Jepara untuk kerajinan kayu, kluster batik yang banyak terdapat di daerah Jawa, kluster pembuatan rokok di Kudus, kluster kerajinan rotan di Tegalwangi. Melihat potensi ini, maka pemerintah daerah dapat mendorong pemasaran dan peningkatan daya saing produk-produk tersebut dengan kebijakan-kebijakan yang relevan.

Akhirnya, jaringan sosial merupakan modal dasar yang secara natural sudah kita miliki dan memberikan kontribusi bagi peningkatan daya saing industri di Indonesia. Hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yang selama ini sudah dijalin adalah aset berharga dalam menghadapi persaingan di era globalisasi dan mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki dalam membuat kebijakan yang relevan untuk mendorong peningkatan UMKM di Indonesia.

Sumber:Metrotvnews.com

  1. 15 Desember 2010 pukul 10:54 pm

    blog anda sangat bagus…

    salam kenal..
    kunjungi balik blog saya dong..

    • 18 Desember 2010 pukul 4:53 pm

      Salam kenal juga utk Pak Tambar dan terima kasih atas kunjungannya ya. Salam Mantab ya

      BTW, blognya udah kukunjungi, tapi koq error tidak ada yg muncul ya.

  2. 20 Desember 2015 pukul 8:28 pm

    halooo.. saya mau konsul boleh ? lagi mau cari topik skripsi jaringan sosial dalam lingkup ekonimi dgn subjek tukang becak .. adakah saran dari anda ? makasih atas tulisan anda di atas🙂

    • 22 Desember 2015 pukul 3:54 pm

      Bisa banyak juga itu ya. Misalnya:
      1. Peran jaringan tukang becak
      2. Jaringan tukang becak dan kemdandirian abang becak
      3. Peran bos tukang becak dalam pengembangan jejaringnya untuk peningkatan kinerja usahanya.
      4. . . .

  3. 22 Desember 2015 pukul 5:10 pm

    wahh.. iya pak. sebelumnya saya juga berpikiran seperti itu, tapi pembimbing saya ingin teori ekonomi yg lebih dominan. trims

  4. 16 April 2016 pukul 2:54 pm

    maaf pak apa bisa tukaran link pak?

  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: