Beranda > Artikel, Editorial, Kemiskinan, Perencanaan Pembangunan > Tersihir Pertumbuhan Semu

Tersihir Pertumbuhan Semu

Editorial Media Indonesia

KEGEMARAN membanggakan asumsi di atas kertas masih mendominasi arah kebijakan ekonomi negeri ini. Itulah mengapa saban awal tahun para pejabat di republik berpenduduk 237 juta ini rajin menebar harapan.

Untuk 2011, pemerintah amat yakin bahwa ekonomi bakal tumbuh lebih dari 6%. Bahkan, pemerintah mengklaim pertumbuhan kita sudah efektif meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Lalu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa membeberkan data statistik yang menunjukkan betapa ‘hebatnya’ kinerja ekonomi kita. Pengangguran susut menjadi 7,14%, padahal tahun-tahun sebelumnya double digit. Penduduk miskin yang dientaskan dari 2009 ke 2010 berjumlah 1,5 juta jiwa, atau dari 14,1% menjadi 13,3%.

Data-data itu bak mantra yang meneror rasionalitas kita akan fakta masih centang-perenangnya kehidupan rakyat. Hanya terbilang jam sejak pemerintah merilis turunnya angka kemiskinan, di Jepara, Jawa Tengah, enam nyawa anak melayang setelah terpaksa memakan tiwul karena orang tua mereka tak sanggup membeli beras yang harganya membubung.

Di atas kertas, ekonomi memang tumbuh. Tapi, di alam nyata, pertumbuhan nyaris tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat tidak berubah signifikan. Hal itu tecermin dari rasio Gini, sebuah rasio yang mengukur ketimpangan pendapatan penduduk secara menyeluruh.

Data Indef menunjukkan dalam lima tahun terakhir rasio Gini hanya turun 0,012, dari 0,343 pada 2005 menjadi 0,331 pada 2010. Rasio Gini membentang dari nol sampai satu. Nol menunjukkan pemerataan, satu melambangkan ketimpangan.

Gambaran ketimpangan itu makin nyata bila kita potret dari jumlah dana pihak ketiga di perbankan. Data pada November 2010 menunjukkan rekening orang kaya, dengan nominal di atas Rp5 miliar, menguasai 39,52% total dana pihak ketiga di bank, berjumlah Rp2,2 triliun. Padahal, jumlah mereka cuma 0,04%.

Jumlah itu lebih dari dua kali lipat total dana masyarakat di bawah Rp100 juta yang hanya menguasai 17,38%. Padahal, jumlah rekening di bawah Rp100 juta mencapai 97,7%.

Lalu, apa fungsi APBN yang dari tahun ke tahun terus naik? Pada 1998, belanja APBN kita masih di kisaran Rp500 triliun. Tapi, tahun ini belanja APBN sudah mencapai Rp1.229,5 triliun.

Kenaikan belanja yang lebih dari dua kali lipat dalam kurun 12 tahun itu toh belum banyak mendongkrak ekonomi secara signifikan. Belanja barang dan modal yang diharapkan menjadi pendongkrak ekonomi cuma mendapat porsi Rp254 triliun atau sekitar 20%.

Belum lagi penyerapan anggaran yang terus-menerus bermasalah, tidak pernah tuntas. Rezim anggaran dibikin defisit, tapi sisa anggaran sudah mencapai Rp90 triliun. Hampir separuh anggaran diserap di dua bulan terakhir saban tahun.

Selama pola anggaran masih begitu-begitu terus, selama itu pula kita akan gagal mendekatkan pertumbuhan dengan kesejahteraan. Negeri ini pun bakal terus tersihir oleh pertumbuhan semu yang tidak berkualitas.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: