Beranda > Artikel, Kesejahteraan Rakyat, Perencanaan Pembangunan, Sektoral > Dampak Ketiadaan Kebijakan Kependudukan

Dampak Ketiadaan Kebijakan Kependudukan

Disarikan dari tulisan Kartono Mohamad, Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada metrotvnews.com

... padat

Indonesia mengalami ledakan penduduk pertama kali pada tahun 60-70-an. Penduduk yang lahir pada masa tersebut diperkirakan akan melahirkan: ledakan penduduk kedua pada tahun 2010-2011 ini.

Survei Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia telah mencapai angka 237, 56 juta, sebuah angka yang oleh Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 diprediksikan baru tercapai pada 2015.

RPJPN memprediksi bahwa pada tahun 2010 ini penduduk Indonesia baru mencapai 232 juta orang. Sementara Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada tahun 2009 tercatat berada pada peringkat ke 108 dari 188 negara di dunia.

Hasil sensus 2010 juga menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia bertambah sebesar 3,5-4 juta setahunnya. Sepintas angka itu kecil dibandingkan dengan angka total penduduk yang 237,56 juta jiwa.

Pertambahan 3,5 juta setahun bukanlah hal yang ringan meski Indonesia sangat luas, terutama karena sebagian besar dari Indonesia yang luas tersebut sebenarnya berupa laut. Pertambahan penduduk sebesar itu adalah kira-kira sama dengan penduduk Singapura. Artinya, setiap tahun sebuah negara sebesar Singapura ditambahkan ke Indonesia.

Dampak Negatif Pertumbuhan Penduduk

Dengan pertambahan itu, tiap tahun Indonesia harus menambah bahan makanan untuk 3,5 juta mulut lagi yang kalau tiap orang memerlukan – katakanlah 100 gram beras—berarti diperlukan 350 ton beras setahun. Tahun depannya selain yang 350 ton itu diperlukan tambahan 350 ton lagi. Demikian seterusnya. Belum lagi lauk pauknya.

Setelah lima tahun, ketika anak-anak mulai masuk sekolah, diperlukan 3,5 juta bangku sekolah. Kalau tiap kelas berisi 35 anak, maka diperlukan 100.000 ruang kelas baru. Dan seterusnya, dan seterusnya. Kelak ketika mereka memasuki usia kerja, berapa banyak lagi pekerjaan yang harus disediakan.

Kemudian berapa hektare lahan yang akan terkonversi menjadi perumahan, dari lahan yang mungkin semula subur untuk pertanian dan menghasilkan pangan atau yang semula hutan penyangga air.

Sayangnya, pertambahan 3,5 juta itu terutama berasal dari keluarga yang kurang terdidik, yang miskin, atau yang terisolir jauh dari jangkauan layanan kesejahteraan. Akan sangat sulit mengharapkan bahwa penduduk yang baru itu kelak akan menjadi sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan negara lain.

Kemungkinan besar mereka akan mengalami kekurangan gizi sejak dalam kandungan sehingga kemampuan otaknya tidak mampu berkembang dengan optimal. Kita akan menghasilkan sejumlah besar penduduk dengan kecerdasan yang di bawah rata-rata.

Mungkin bagi anda semua itu bukan masalah yang besar. Tetapi bayangkan, jika hal itu terus berlangsung, maka pemimpin bangsa ini kelak akan datang dari mereka-mereka itu, dan kelompok yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata akan menjadi minoritas.

Pengambil keputusan dan penentu kebijakan kita kelak adalah orang-orang yang berkecerdasan di bawah rata-rata. Kita akan didikte atau menjadi budak dari negara-negara lain yang memiliki sumber daya manusia yang berkecerdasan tinggi.

Gambaran itu mungkin terasa pesimistis tetapi bukan tidak mungkin terjadi. Harus kita akui bahwa kecenderungan ke arah sana sudah mulai nampak.

Mengapa semua itu terjadi? Karena beberapa tahun setelah reformasi, pemerintah yang baru tidak pernah mempunyai kebijakan kependudukan yang jelas, atau bahkan sama sekali tidak mempunyai kebijakan kependudukan.

Kebijakan mengenai KB sudah dilupakan atau nyaris dilupakan. Kebijakan KB yang diambil pada zaman orde baru dulu memang terutama ditujukan untuk mengendalikan pertambahan penduduk. Tetapi di balik itu, kebijakan KB yang disusun dengan wawasan yang jauh akan memungkinkan para orang tua mengasuh anak dengan baik, mengatur pengeluaran keluarga agar setiap anak akan mendapat gizi, kasih sayang, pemeliharaan kesehatan dan pendidikan yang baik.

Sementara itu, pemerintah juga mempunyai waktu untuk mengatur dan merencanakan pengembangan mereka agar menjadi aset yang dapat diandalkan dalam bersaing dengan negara-negara lain.

Ketiadaan perhatian khusus dari pemerintah sekarang terhadap masalah kependudukan, yang tercermin dari program seratus hari SBY-Boediono, diperparah oleh ketidaktahuan para kepala daerah, yang membuat program KB menjadi berantakan.

Kedudukan KB dalam struktur organisasi pemda maupun dalam program-programnya menjadi kacau. Ada yang digabungkan dengan dinas sosial dan mengurusi kredit rakyat kecil, ada yang dihapus sama sekali, ada yang digabung dengan dinas kesehatan tetapi tidak didukung dana, ada yang digabung dengan dinas pencatatan sipil, ada yang digabung dengan dinas transmigrasi, dan sebagainya.

Hampir semua itu tidak lagi berbicara tentang penganjuran perencanaan keluarga, apalagi menyediakan pelayanannya. Pelayanan KB sepenuhnya diserahkan kepada para tenaga kesehatan, terutama bidan. Dalam pelaksanaannya di lapangan, bidan pun menyelenggarakannya sering sesuai dengan kepentingan mereka pribadi.

Para dokter Puskesmas, terutama di daerah terpencil, tidak sempat memikirkan pelayanan KB karena penempatan mereka di sana hanyalah sementara. Di sisi lain tidak ada dukungan atau arahan yang jelas mengenai hal ini dari kepala daerah, yang memang tidak mempunyai wawasan kependudukan. Kalaupun ada yang melihat penduduk sebagai aset, yang terpikir adalah menjadikan mereka buruh migran ke negara atau daerah lain.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: