Beranda > Artikel, Diskusi, Kelembagaan > Property Rights for “Sesame Street”

Property Rights for “Sesame Street”

Diterjemahkan secara bebas oleh rusmanik dari: Janet Beales Kaidantzis, Property Rights for “Sesame Street”. Materi ini juga tayang di icnie.org

Salah satu konsep penting dalam Ilmu Ekonomi Kelembagaan Baru adalah Property Rights (Hak Kepemilikan). Bagi yang meminati ilmu itu, pemahaman terhadap konsep hak kepemilikan ini sangat penting. Kasus tragedy of the commons terjadi karena tidak adanya hak kepemilikan. Konsep hak kepemilikan juga bagian penting dalam Teorema Coase.  Karena itu, mari mempelajarinya dari cerita berikut  ini.

Perlu Hak Kepemilikan …

Pernahkah melihat anak-anak bertengkar memperebutkan mainan? Percekcokan seperti itu juga lumrah dalam rumah tangga Katherine Hussman Klemp. Dalam Sesame Street Parent’s Guide, dia menceritakan bagaimana dia berhasil menciptakan perdamaian delapan anak di keluarganya dengan menetapkan hak kepemilikan atas sebuah mainan.

Sebagaimana halnya ibu muda lainnya, Klemp sering membelikan anak-anaknya bermacam-macam permainan. “Awalnya aku jarang menyerahkan secara spesifik suatu jenis mainan tertentu kepada seorang anak tertentu,” katanya.

Lalu apa yang terjadi? “Setelah beberapa waktu, saya melihat dengan nyata bahwa ketidakjelasan kepemilikan sangat mudah menyebabkan pertengkaran diantara kedelapan anakku. Jika semuanya milik semua orang, maka tiap anak merasa memiliki hak untuk menggunakannya sesukanya” katanya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Klemp memperkenalkan dua aturan sederhana: Pertama, tidak pernah lagi membawakan suatu mainan ke dalam rumah tanpa menetapkan kepemilikan yang jelas pada seorang anak. Selanjutnya, kepada anak yang menjadi pemilik, diberi otoritas tertinggi atas penggunaan properti (mainan) tersebut.

Kedua, anak yang menjadi pemilik, tidak diharuskan untuk meminjamkan (berbagi) mainan yang dimilikinya tadi, sehingga status kepemilikannya bersifat pasti.

Sebelum aturan itu di tempat, Klemp ingat, “saya sangat sulit untuk menyelesaikan secara adil suatu pertengkaran rebutan mainan, dan saya selalu merasa tidak enak hati untuk menjatuhkan pembelaan pada seorang anak tertentu.

Sekarang, dengan adanya aturan tersebut, hak miliklah yang menyelesaikan pertengkaran, bukan lagi ibunya.

Alih-alih mengajarkan egoisme, pengenalan hak milik justru mendorong anak untuk mau berbagi. Dengan adanya hak kepemilikan tadi, anak-anak merasa aman karena mereka tahu bahwa selalu bisa mendapatkan kembali mainan yang dipinjamkannya itu.

Klemp menambahkan, “dengan ‘berbagi’ seperti itu, justeru telah mengangkat harga diri anak-anak untuk melihat diri mereka sebagai orang yang murah hati.”

Lalu, anak-anak juga tidak hanya menghargai hak milik pribadi mereka sendiri, tetapi juga, mereka memperluas pemahamannya bahwa menghargai milik orang lain pun sangatlah perlu.”

Sekarang jarang sekali seorang anak menggunakan mainan anakku yang lain, tanpa meminta izin pada pemiliknya, dan mereka menghormati pesan “tidak boleh” saat izinnya tidak diperbolehkan

Hal terbaik dari semua itu adalah, ketika seseorang anak yang selalu berkata “tidak”, lalu suatu saat dia bermurah hati dengan berkata “ya boleh”, maka anakku yang meminjam tadi berasa mendapatkan sebuah hadiah, sehingga lebih sering berucap “terima kasih” daripada “tidak”.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: