Beranda > info > Bea dan Cukai

Bea dan Cukai

Kolom Bambang Aji, InilahReview, 12 Tahun III, 11-17 November 2013

bea dan cukai

bea dan cukai

Ditjen Bea dan Cukai (BC) mungkin bisa menjadi contoh dimana gaji tinggi tidak menjamin 100% pegawainya akan bekerja bersih. Instansi ini juga bisa menjadi contoh bagaimana upaya pembersihan dan kontrol yang ketat tidak mampu membersihkan praktik korupsi.

BC juga bisa menjadi contoh dimana sistem kerja yang canggih gagal menghilangkan praktek suap-menyuap. Di BC juga bisa ditemukan seorang jenderal bintang tiga tidak berhasil memberantas para pencoleng.

Separah itukah? Instansi yang cukup besar memasukkan uang ke kas negara ini hanyalah sebuah contoh. Kalau mau jujur, rasanya hampir tidak ada lagi instansi di negeri ini yang benar-benar bersih dari korupsi. Bahwa BC menjadi contoh dari sebuah instansi yang bobrok, gawainya diciduk aparat karena diduga telah menerima suap hingga puluhan milyar rupiah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa pegawai BC yang gajinya sepuluh kali lipat dari gaji pegawai Balai Karantina Kementiran Pertanian  itu masih menerima suap begitu besar? Entahlah. Yang pasti, pegawai BC adalah manusia biaya yang oleh sang pencipta diberi hawa nafsu.

Ketidakberesan itu bisa juga dibentuk oleh pekerjaan. Petugas BC tentu selalu menyanyaksikan dengan mata sendiri barang-barang yang masuk ke Indonesia. Karena kerjaan pula, mereka pun tahu mana barang baik dan barang berkualitas kurang.  Mereka mampu membedakan mana sepatu Bally berkualitas tinggi, dan mana rongsokan. Mana kemeja Pierre Cardin asli dan mana yang bikinan Taiwan. Mana jam Swiss, mana jam China.

Nah, karena petugas BC juga manusia biasa, bukan tidak mungkin lama kelamaan ingin juga merasakan barang-barang mewah itu. Ditambah lagi ada sejumlah importir atau eksportir yang ingin menghindari peraturan kepabeanan, maka terjadilah kebrengsekan itu.

Sesungguhnya, sejak jaman Belanda, yang namanya orang BC, memang sudah dibedakan soal gaji. Tapi, waktu itu, disiplin pun tak bisa di tawar-tawar. Konon, kalau kepabeanan menahan apel impor, maka tidak ada seorang petugas BC pun yang berani menggigit buah apel itu. Sebab, hukumannya bukan sekedar peringatan, tetapi dia akan langsung diberhentikan.

Sayang, gaji dan disiplin tinggi itu hanya berlangsung hingga tahun 1957, ketika Belanda di usir dari Indonesia. Pada saat politik konfrontasi, yang membuat negeri ini hampir bangkrut, gaji pegawai BC jauh dari cukup. Di zaman Orde Baru, ketika perekonomian bertambah baik, kejayaan aparat BC kembali datang. Gaji mereka dua kali lipat dari pegawai negeri yang lain.

Di era Menteri keuangan Sri Mulyani, pegawai BC dan Pajak sangat beruntung karena mendapat gaji serta tunjangan yang bisa membuat iri pegawai negeri lainnya. Sri Mulyani mungkin terinspirasi oleh penjajah Belanda. Ia berasumsi, gaji yang tinggi akan membuat aparat BC tak mampu disuap. Kejujuran bisa ditegakkan.

Asumsi itu salah. Gaji tinggi ternyata tak ubahnya seperti obat sakit kepala. Ia hanya menyembuhkan beberapa saat saja. Setelah gaji tinggi dianggap sebagai hal yang biasa, maka sakitnya kembali kambuh. Korupsi pun kembali marak, bahkan mungkin semakin menjadi-jadi. Soalnya, ya itu tadi, aparat BC adalah manusia  yang punya nafsu dan dibentuk oleh pekerjaan yang serba basah.

Betul, tak semua orang BC basah. Mereka yang ditempatkan di kantor cabang yang agak sepi, bisa jadi hidupnya biasa-biasa saja karena memang tidak ada peluang mendapatkan rejeki tidak resmi. Betul juga, masih banyak aparat BC yang jujur dan tidak bisa disuap. Mereka inilah yang layak mendapatkan penghargaan. Sementara bagi pegawai nakal, kendati sudah diberi gaji tinggi, maka yang pantas baginya adalah hukuman yang maha berat.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Pembaca pastilah punya pendapat keren. "Bagaimana menurut Anda"?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: