Arsip

Posts Tagged ‘ASB’

Sekelumit tentang Analisis Standar Belanja

2 Maret 2013 3 komentar

Apakah ASB? ASB adalah Analisis Standar Belanja, yaitu: Penilaian KEWAJARAN atas BEBAN KERJA dan BIAYA yang digunakan untuk melaksanakan suatu KEGIATAN. Per definisi, ada 3 (tiga) pertanyaan dasar di dalamnya, yaitu:

  1. Apakah BEBAN KERJA diusulan kegiatan adalah beban kerja yang wajar ?
  2. Apakah BIAYA yg dianggarkan pada kegiatan tersebut adalah nilai yang wajar?, dan
  3. Apakah BIAYA wajar utk Beban Kerja tersebut ?

Tujuan dasar dari penerapan ASB adalah untuk menjamin bahwa usulan kegiatan SKPD adalah usulan yang terekonomis, efisien dan efektif, paling tidak di saat tahap perencanaannya.

Siapakah yang seharusnya menerapkan ASB? Justeru SKPD pengusul yang seharusnya melakukan analisis standar belanja. Bukan TAPD, melalui Bappeda atau Dinas Pengelola Keuangan. Hasil ASB dari SKPD pengusul akan menjadi dasar pertimbangannya utk MENGAJUKAN dan MEMPERTAHANKAN usulan kegiatan.

Klik ini untuk melihat slidenya

Alternatif Cara untuk Menjamin Kewajaran Usulan Belanja

16 November 2008 14 komentar

Dalam sistem anggaran berbasis prestasi kerja, setiap usulan program dan kegiatan serta anggarannya perlu dinilai kewajarannya. Dalam kaitan itu, perlu ditetapkan Analisis Standar Belanja (ASB) sebagai pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam satu tahun anggaran.

Pada tataran praktis, penilaian kewajaran tersebut umum dilakukan dengan membandingkan perkiraan belanja hasil perhitungan dari SKPD dengan perkiraan belanja hasil perhitungan model regresi sederhana yang menghubungkan variabel beban kerja dengan total kebutuhan belanjanya.

Ada banyak kritik yang muncul. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. GIGO: Garbage in Garbage Out. Data yang digunakan adalah data masa lalu. Bila pada data tersebut telah ada mark-up, maka nilai belanja hasil prediksi model pun cenderung telah termasuki unsur-unsur mark-up tersebut.
  2. Tidak menjamin menghasilkan prediksi total belanja yang paling efisien. Bila karena satu dan lain hal, suatu aktivitas dapat dipersingkat atau digantikan aktivitas lain, atau dihilangkan, maka hasil perhitungan manual akan lebih efisien dibandingkan dengan perkiraan model regresi. Mengapa? Karena aktivitas di dalam model sudah tidak dapat diubah, kecuali bila dilakukan penghitungan ulang.
  3. Pengelompokan kegiatan yang relatif umum. Umum terjadi bahwa kegiatan yang diberi nama sama atau mirip tetapi dilaksanakan oleh dua atau tiga SKPD yang relatif berbeda akan cenderung berbeda. Akibatnya, pengelompokkan kegiatan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan kemiripan nama kegiatan.

ALTERNATIF

Adakah alternatif cara untuk menjamin kewajaran usulan belanja?

Baca selanjutnya…