Arsip

Posts Tagged ‘Krisis’

Kedaulatan Pangan

Sumber: Editorial Media Indonesia, 28 Juli 2012

Wujudkan !

INDONESIA ialah negeri agraris yang penuh ironi. Dengan potensi lahan pertanian demikian luas, negeri ini tidak mampu memberi makan rakyat dari hasil bumi sendiri.

Hasil evaluasi indeks ketahanan pangan global yang dikeluarkan Economist Intelligence Unit (EIU) yang dirilis dalam acara Dupont Media Forum di Singapura, kemarin, menegaskan hal itu.

Posisi ketahanan pangan Indonesia menurut lembaga itu hanya berada di posisi kelima di antara tujuh negara ASEAN yang dievaluasi. Indeks Indonesia bahkan berada di bawah Filipina yang merupakan pesaing Indonesia dalam kelompok negara pengimpor beras terbesar di dunia.

Posisi ketahanan pangan Indonesia berada di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Posisi Indonesia hanya sedikit lebih baik daripada Myanmar dan Kamboja.

Hasil evaluasi EIU itu sesungguhnya sama sekali tidak mengejutkan. Tidak mengejutkan karena sudah lama kita mengkhawatirkan kondisi ketahanan pangan kita yang semakin hari semakin buruk.

Hampir seluruh kebutuhan pangan kita dipenuhi dengan impor. Kebutuhan beras, jagung, kedelai, gandum, gula, garam, dan bahan pangan lain tidak mampu kita penuhi sendiri.

Selengkapnya 😉

Ekonomi Pedesaan Berpotensi terkena Dampak Krisis Ekonomi Global

Sumber: Rilis Berita Universitas Gadjah Mada

//www.ugm.ac.id/headers/lambangKrisis ekonomi global tidak hanya berdampak pada krisis sektor pasar modal, namun juga berdampak bagi ekonomi perdesaan.

Namun dampak krisis pada ekonomi perdesaan bergantung pada jenis barang impor (import content) yang dikonsumsi masyarakat perdesaan. Semakin tinggi barang impor yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, maka akan semakin besar dampaknya.

Demikian disampaikan oleh dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Dr Rimawan Pradiptyo dalam “Diskusi Krisis Finansial Dunia dan Dampaknya pada Perekonomian Pedesaan”, Kamis sore (16/10), di ruang seminar Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM. Baca selanjutnya…

Pekerjaan Rumah Domestik

Tajuk Rencana Kompas, Kamis, 16 Oktober 2008

kompas cetak

Amerika yang kolaps, kita yang panik dan babak belur. Kesan itu sempat muncul. Dunia tergambar serba suram mencekam. Psikologi kepanikan menyihir kita semua.

Langkah antisipasi dan respons cepat dan tepat memang sangat penting dan perlu karena bagaimanapun dampak krisis AS sebagai perekonomian terbesar tak bisa diabaikan. Pada saat yang sama, suasana tenang dan optimistis perlu tetap kita jaga, tetapi juga jangan sampai kita dibius dan terlena, serta bersikap seolah tak terjadi apa-apa (business as usual), karena akibatnya bisa fatal.

Dari pengalaman krisis sebelumnya, sikap pemerintah yang mengingkari adanya masalah atau bahaya besar terhadap ekonomi (denial) justru jadi bumerang.

Yang dituntut adalah respons yang cepat dan tepat, pas, tidak berlebihan, tepat waktu. Pemerintah harus bisa meyakinkan bahwa mereka tahu apa yang harus dilakukan dan menghindari kesan panik, tetapi pada saat yang sama terbuka mengenai kondisi riil yang dihadapi. Sebab, di situ kunci dari kredibilitas dan kepercayaan. Baca selanjutnya…

Asian Values and the Current Crisis

16 Agustus 2008 1 komentar

By Francis Fukuyama

Are cultural values responsible for Asia’s remarkable postwar economic success? A decade ago many observers, including proponents of “Asian values” like Singapore’s former Prime Minister Lee Kwan Yew, would have answered affirmatively. Now, in light of the recent crisis that has struck the Asia region, it is useful to revisit the role of cultural values. Many observers today claim that Asian values, far from explaining economic success, are themselves the prime cause of the cronyism that afflicts the Asian countries.

There is no scholarly disagreement on the proposition that Asian cultural values are more hospitable to paternalistic authoritarianism than to Western-style democracy. Confucianism entails an ethical world in which people are born not with rights but with duties to hierarchically arranged authorities, beginning with the family and extending all the way up to the state and the emperor. Westerners sometimes forget the key role of Judeo-Christian transcendent monotheism in their political and social lives. The idea that there is an eternal realm of divine law superior to positive law gives the individual grounds for revolt against all forms of secular authority.

Baca selanjutnya…