Arsip

Posts Tagged ‘Pertumbuhan Ekonomi’

Pertumbuhan Ekonomi yang Keropos

21 Desember 2012 1 komentar

Editorial Media Indonesia, Sabtu 15 Desember 2012

Rentan

Rentan

LEMBAGA-LEMBAGA internasional memprediksi ekonomi Indonesia bakal mentereng di tahun-tahun mendatang. World Bank, International Monetary Fund, dan majalah The Economist, misalnya, memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh di atas 6%. McKinsey Global Institute bahkan meramal Indonesia menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia.

Selain lembaga-lembaga itu, tentu pemerintah Indonesia juga optimistis, bahkan terlalu optimistis dengan masa depan ekonomi kita. Pemerintah mengasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,8% per tahun.

Di tengah krisis ekonomi Eropa dan Amerika, ketika lembaga-lembaga lain merevisi dan menurunkan prediksi angka pertumbuhan ekonomi, pemerintah tetap mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8%.  SELENGKAPNYA

Iklan

Belanja Pegawai Tidak Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

5 Mei 2012 11 komentar

MISALKAN, nilai korelasi antara belanja pegawai dengan pertumbuhan ekonomi di sebuah Kabupaten relatif rendah. Mengapa nilai korelasinya rendah? Paling tidak, jawaban hipotetisnya adalah sebagai berikut:

Mengapa korelasi Belanja Pegawai dengan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Rendah?

Mengapa korelasi Belanja Pegawai dengan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Rendah?

Masih ada lanjutannya

Empat Paradoks Perekonomian Indonesia

26 Maret 2011 1 komentar

paradoks

Menurut A Prasetyantoko, (m.kompas.com, 3 Maret 2011) ada empat paradoks Perekonomian Indonesia. Pertama, paradoks pertumbuhan. Pada 2010 pertumbuhan mencapai 6,1 persen, kuartal II mencapai 6,6 persen. Ekonomi yang tumbuh memberi ruang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, benarkah kesejahteraan meningkat?

Dilihat dari pendapatan per kapita, itu mungkin terjadi, tetapi kesenjangan juga semakin lebar. Indeks Gini yang mengukur tingkat distribusi pendapatan cenderung meningkat, sementara indeks pembangunan manusia tidak menunjukkan perbaikan berarti (peringkat ke-108 pada 2010). Maka, pertumbuhan ekonomi di satu sisi menimbulkan kesenjangan di sisi lain. Secara sektoral, telekomunikasi, jasa, perdagangan, dan keuangan tumbuh pesat, tetapi manufaktur, pertambangan, dan pertanian justru semakin menyusut.

Kedua, paradoks daya saing. Meskipun kaya sumber daya alam dan manusia, daya saing Indonesia tidak meningkat signifikan. Menurut survei indeks daya saing dunia, peringkat kita memang meningkat ke posisi ke-44 tahun 2010, tetapi sejatinya tak ada perubahan mendasar dalam kemudahan menjalankan usaha di Indonesia.

Baca lebih lanjut: Empat Paradoks Perekonomian Indonesia

Kemiskinan dalam Statistik dan Realitas

14 Februari 2011 2 komentar

Sumber: beritaindonesia.co.id

Realitasnya ...

Beberapa pihak menyebut salah satu indikasi kekurangberhasilan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah: masih tetap tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Namun, Presiden SBY justru mengklaim bahwa pemerintahannya telah sukses menurunkan angka kemiskinan.

Presiden menyebut, penurunan angka kemiskinan selama enam tahun masa pemerintahannya sudah 3,6 persen. Disebut, angka kemiskinan pada 2004 adalah 16,9 persen. Lalu, selama enam tahun pemerintahannya, angka itu disebutnya turun menjadi 13,3 persen. Menurut Presiden, penurunan tersebut, sudah lebih baik daripada capaian negara-negara lain. Presiden menambahkan, sebuah studi mengatakan bahwa:  sebuah negara bisa dikatakan baik jika mampu mengurangi angka kemiskinan hingga 0,3 persen setiap tahun.

Baca selanjutnya…

Kesenjangan Ekonomi Semakin Lebar

8 Februari 2011 1 komentar

Sumber: kompas.com

... more jobs please

Perekonomian Indonesia pada 2010 tumbuh 6,1 persen, melampaui target 5,8 persen. Nilai produk domestik bruto naik dari Rp 5.603,9 triliun pada 2009 menjadi Rp 6.422,9 triliun tahun lalu. Namun, pertumbuhan ekonomi ini menimbulkan kesenjangan di masyarakat.

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky di Jakarta, Senin (7/2/2011), mengatakan, kelompok masyarakat yang sangat kaya masih menjadi penyokong utama pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi rumah tangga mereka.

Sementara sektor industri berorientasi penciptaan nilai tambah penyerap lapangan kerja, yang menjadi salah satu indikator kesuksesan pertumbuhan ekonomi, justru kian melemah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengumumkan, pertumbuhan ekonomi pada 2010 dengan nilai produk domestik bruto (PDB) Rp 6.422,9 triliun dan pendapatan per kapita mencapai Rp 27 juta per tahun.

Jumlah ini didapat dari membagi Rp 6.422,9 triliun dengan 237,6 juta penduduk Indonesia.

Baca selanjutnya…

Perekonomian Daerah tumbuh stabil, tetapi mengapa kemiskinan juga bertambah ?

28 Oktober 2010 7 komentar

Salah satu tantangan pembangunan adalah: memacu dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi yang selalu dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat. Tantangan ini tidak hanya pada tingkat nasional, tetapi juga di tingkat Daerah Kabupaten Kota.

Ada pendapat, apabila pertumbuhan ekonomi tinggi, secara otomatis seluruh masyarakat akan tambah sejahtera serta kemiskinan berkurang. Benarkah analisis tersebut? Mungkin benar, tetapi tidak sepenuhnya, atau bahkan mungkin sebaliknya. Perlu kajian komprehensif di tiap daerah.

Tetapi, mungkinkah di tengah pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan stabil jumlah orang miskin justeru juga cenderung semakin banyak?

Baca selanjutnya…