Arsip

Posts Tagged ‘Pertumbuhan’

Indonesia Menghindari Perangkap Negara Berpenghasilan Menengah: Kajian Kebijakan Pembangunan 2014

Sumber: http://www.worldbank.org/

Dalam satu dekade ke depan, Indonesia memiliki beberapa faktor, yang bila disertai kebijakan yang baik, dapat menjadi pendorong pertumbuhan yang tinggi, yaitu: demografi dengan besarnya tenaga kerja; tren urbanisasi; serta perkembangan di Cina.

Indonesia menghadapi risiko melambatnya pertumbuhan dalam jangka panjang, karena pertumbuhan akhir-akhir ini kurang didukung lingkungan eksternal yang kondusif, yaitu tingginya harga komoditas pada 2003-2011 disertai dengan suku bunga global yang rendah sejak tahun 2009.

Indonesia perlu tumbuh di atas 5 persen untuk menghindari masalah pengangguran yang serius. Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi di tas 5 persen diperlukan Indonesia agar naik menjadi negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2030.

Baca selanjutnya…

Empat Paradoks Perekonomian Indonesia

26 Maret 2011 1 komentar

paradoks

Menurut A Prasetyantoko, (m.kompas.com, 3 Maret 2011) ada empat paradoks Perekonomian Indonesia. Pertama, paradoks pertumbuhan. Pada 2010 pertumbuhan mencapai 6,1 persen, kuartal II mencapai 6,6 persen. Ekonomi yang tumbuh memberi ruang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, benarkah kesejahteraan meningkat?

Dilihat dari pendapatan per kapita, itu mungkin terjadi, tetapi kesenjangan juga semakin lebar. Indeks Gini yang mengukur tingkat distribusi pendapatan cenderung meningkat, sementara indeks pembangunan manusia tidak menunjukkan perbaikan berarti (peringkat ke-108 pada 2010). Maka, pertumbuhan ekonomi di satu sisi menimbulkan kesenjangan di sisi lain. Secara sektoral, telekomunikasi, jasa, perdagangan, dan keuangan tumbuh pesat, tetapi manufaktur, pertambangan, dan pertanian justru semakin menyusut.

Kedua, paradoks daya saing. Meskipun kaya sumber daya alam dan manusia, daya saing Indonesia tidak meningkat signifikan. Menurut survei indeks daya saing dunia, peringkat kita memang meningkat ke posisi ke-44 tahun 2010, tetapi sejatinya tak ada perubahan mendasar dalam kemudahan menjalankan usaha di Indonesia.

Baca lebih lanjut: Empat Paradoks Perekonomian Indonesia

Tersihir Pertumbuhan Semu

Editorial Media Indonesia

KEGEMARAN membanggakan asumsi di atas kertas masih mendominasi arah kebijakan ekonomi negeri ini. Itulah mengapa saban awal tahun para pejabat di republik berpenduduk 237 juta ini rajin menebar harapan.

Untuk 2011, pemerintah amat yakin bahwa ekonomi bakal tumbuh lebih dari 6%. Bahkan, pemerintah mengklaim pertumbuhan kita sudah efektif meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Lalu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa membeberkan data statistik yang menunjukkan betapa ‘hebatnya’ kinerja ekonomi kita. Pengangguran susut menjadi 7,14%, padahal tahun-tahun sebelumnya double digit. Penduduk miskin yang dientaskan dari 2009 ke 2010 berjumlah 1,5 juta jiwa, atau dari 14,1% menjadi 13,3%.

Data-data itu bak mantra yang meneror rasionalitas kita akan fakta masih centang-perenangnya kehidupan rakyat. Hanya terbilang jam sejak pemerintah merilis turunnya angka kemiskinan, di Jepara, Jawa Tengah, enam nyawa anak melayang setelah terpaksa memakan tiwul karena orang tua mereka tak sanggup membeli beras yang harganya membubung.

Di atas kertas, ekonomi memang tumbuh. Tapi, di alam nyata, pertumbuhan nyaris tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Baca selanjutnya…

Endowments, location or luck ? Evaluating the determinants of sub-national growth in decentralized Indonesia

Faktor apakah yang dominan mendorong pertumbuhan ekonomi Daerah kabupaten dan kota? Mari mempelajarinya dari kajian McCulloch, Neil, Sjahrir, dan Bambang Suharnoko dalam Endowments, location or luck ? Evaluating the determinants of sub-national growth in decentralized Indonesia.

Selain berusaha untuk identifikasi faktor-faktor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah kab/kota, paper ini juga bertujuan untuk menganalisis apakah ada perubahan pada faktor-faktor determinan tersebut.

Ketiga peneliti menggunakan variabel yang lebih beragam untuk menggali determinan pertumbuhan ekonomi Daerah kabupaten dan kota, seperti: jarak ibukota kab/kota dengan pusat pertumbuhan, jumlah penduduk, tingkat pendidikan, faktor budaya, serta infrastruktur daerah.

Download: Endowments, location or luck ? Evaluating the determinants of sub-national growth in decentralized Indonesia

Diagnosis Pertumbuhan Aceh : Mengidentifikasi Hambatan-hambatan Utama Pertumbuhan Ekonomi Pasca Konflik dan Pasca Bencana

Diagnosis Pertumbuhan Aceh
Diagnosis … Aceh

Bagaimanakah perkembangan perekonomian Aceh setelah berakhirnya program rekonstruksi pasca tsunami? Data menunjukkan bahwa seiring dengan berakhirnya masa rekonstruksi, pertumbuhan ekonomi Aceh kembali menurun, seperti pada saat sebelum terjadinya tsunami. Perekonomian Aceh mengalami penurunan sebesar lebih dari 8 persen di tahun 2008. Sedangkan perekonomian dari sektor non-migas menunjukkan pertumbuhan yang cukup rendah, yaitu sebesar 1,9 persen, jauh di bawah pertumbuhan di tingkat nasional sebesar 6 persen.

Faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi di Aceh? Laporan “Diagnosis Pertumbuhan Aceh : Mengidentifikasi Hambatan-hambatan Utama Pertumbuhan Ekonomi Pasca Konflik dan Pasca Bencana” mengidentifikasi dan memaparkan secara lebih rinci persoalan-persoalan yang paling mendesak untuk diperbaiki serta menjelaskan bagaimana upaya reformasi yang tepat terkait dengan perkembangan dan pertumbuhan sektor swasta. … baca selengkap

Incremental Capital-Output Ratio

8 Oktober 2008 11 komentar

Investasi akan mempengaruhi jumlah barang modal, yang pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah output yang dapat dihasilkan. Besar investasi di tahun ini di suatu Daerah akan berpengaruh pada besar PDRB di tahun yang akan datang.

Berapakah kebutuhan investasi di Daerah jika PDRB ditargetkan tumbuh sebesar x% di tahun yang akan datang? Ini pertanyaan penting untuk memastikan pencapaian kinerja pertumbuhan ekonomi (PDRB) di daerah. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan menggunakan ICOR (Incremental Capital-Output Ratio).

Diterjemahkan secara bebas, penjelasan tentang incremental capital output ratio (ICOR) dalam Statistical Manual Bank Dunia, adalah sebagai berikut. Baca selanjutnya…

Asian Values and the Current Crisis

16 Agustus 2008 1 komentar

By Francis Fukuyama

Are cultural values responsible for Asia’s remarkable postwar economic success? A decade ago many observers, including proponents of “Asian values” like Singapore’s former Prime Minister Lee Kwan Yew, would have answered affirmatively. Now, in light of the recent crisis that has struck the Asia region, it is useful to revisit the role of cultural values. Many observers today claim that Asian values, far from explaining economic success, are themselves the prime cause of the cronyism that afflicts the Asian countries.

There is no scholarly disagreement on the proposition that Asian cultural values are more hospitable to paternalistic authoritarianism than to Western-style democracy. Confucianism entails an ethical world in which people are born not with rights but with duties to hierarchically arranged authorities, beginning with the family and extending all the way up to the state and the emperor. Westerners sometimes forget the key role of Judeo-Christian transcendent monotheism in their political and social lives. The idea that there is an eternal realm of divine law superior to positive law gives the individual grounds for revolt against all forms of secular authority.

Baca selanjutnya…

Growth-Enhancing Policies Are Good for Poor People

27 Juni 2008 1 komentar

By David Dollar and Aart Kraay

Critics of market economies in general, and globalization in particular, contend that they have unleashed forces leading to large and pervasive increases in inequality within countries. In a recent paper we examine household survey evidence from 80 countries over the past four decades and find that this is simply not so. When inequality is on the rise, poor households benefit less from economic growth than wealthier ones.

In fact, average incomes of the poorest fifth of society rise proportionally with per capita income, indicating that inequality does not systematically increase with growth. Since few countries show significant trends in income inequality, on average economic growth has been the main driving force of poverty reduction in developing countries. A good example in the 1990s is Vietnam, which experienced rapid per capita GDP growth of 6 percent per year with no significant change in the distribution of income. This distributionally-neutral growth led to tremendous improvements in the material well-being of poor Vietnamese. Baca selanjutnya…

Equality and Efficiency: What history teaches us about the trade-offs

19 Juni 2008 1 komentar

By Peter Lindert

untuk memacu pertumbuhan, haruskah negara sedang berkembang menerapkan kebijakan yang membuat pemerataan pendapatan menjadi lebih buruk? Apakah negara yang menerapkan pro-growth strategies cenderung memilih kebijakan pembangunan yang memperbesar jurang antara si kaya dengan si miskin?

To promote growth, must a developing country adopt policies that make incomes more unequal? Do countries that adopt pro-growth strategies tend to choose policies that widen the gap between rich and poor within the country?

History and common sense say “no” to the first question about trade-offs. It has never been true that the only way to improve efficiency and raise GDP per capita is to accept greater inequality, and what we know about the political process says that no country must accept such a choice today (at least not yet). On the second question, history suggests an intriguing long-run evolution. In the earliest phases of economic development, the countries achieving greater growth were indeed those choosing institutions that rewarded rich groups. Yet midway through the evolution—around the year 1800 for the North Atlantic region—the countries leading the growth race became those that implemented more egalitarian (and pro-growth) policies, a choice that was always available and still is available today. Baca selanjutnya…

Dampak KUR Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

31 Mei 2008 2 komentar

Syafrizal Chan,
Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan
Universitas Bung Hatta (UBH)

Sumber: www.padangekspres.co.id, Sabtu, 17 Mei 2008

Program penyaluran kredit untuk pengembangan usaha rakyat oleh pemerintah, bekerjasama dengan perbankan merupakan langkah positif dalam upaya mempercepat pembangunan ekonomi kerakyatan sebagai pondasi perekonomian daerah. Program ini sekaligus menunjukkan masih cukup besarnya komitmen pemerintah terhadap kehidupan masyarakat bawah yang umumnya menggantungkan hidup dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) atau juga dapat disebut usaha rakyat.

Dari studi yang dilakukan terhadap kehidupan usaha kecil, salah satu dari tujuh permasalahan utama yang dihadapinya selama ini adalah: kesulitan dalam mendapatkan modal dengan biaya yang murah untuk pengembangan usaha (Syafrizal Chan, 2007). Bagi usaha kecil, kebutuhan dana untuk pengembangan usaha selama ini lebih banyak disediakan sendiri dengan jumlah yang jauh dari memadai dibandingkan dengan kebutuhan sesungguhnya. Baca selanjutnya…