Archive

Posts Tagged ‘UMKM’

Peranan Jaringan Sosial dalam Pembangunan Ekonomi yang Inklusif

12 Desember 2010 8 komentar

Oleh: Firmanzah, PhD

Pemikiran anak bangsa untuk mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif telah menjadi diskusi dalam berbagai forum publik. Banyak pihak mengulas dan memberikan kritik kepada pemerintah untuk membangun kebijakan yang mendorong ekonomi inklusif.

Keterbatasan pendanaan untuk investasi dalam proyek-proyek infrastruktur, suku bunga kredit modal kerja yang masih tinggi menjadi hambatan dalam implementasi berbagai kebijakan ekonomi yang inklusif.

Tulisan ini mengulas perspektif potensi jaringan sosial yang kita miliki dibandingkan mengulas berbagai kelemahan yang menjadi hambatan. Penulis ingin mengulas potensi jaringan sosial yang kita miliki sebagai modal sosial yang selama ini sudah terbukti memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia. Jaringan sosial ini memberikan kontribusi bagi daya saing produk industri kita dan menjadi solusi bagi keterbatasan pemerintah dalam membenahi iklim industri dalam negeri yang kondusif.

Baca selanjutnya…

Pekerjaan Rumah Domestik

Tajuk Rencana Kompas, Kamis, 16 Oktober 2008

kompas cetak

Amerika yang kolaps, kita yang panik dan babak belur. Kesan itu sempat muncul. Dunia tergambar serba suram mencekam. Psikologi kepanikan menyihir kita semua.

Langkah antisipasi dan respons cepat dan tepat memang sangat penting dan perlu karena bagaimanapun dampak krisis AS sebagai perekonomian terbesar tak bisa diabaikan. Pada saat yang sama, suasana tenang dan optimistis perlu tetap kita jaga, tetapi juga jangan sampai kita dibius dan terlena, serta bersikap seolah tak terjadi apa-apa (business as usual), karena akibatnya bisa fatal.

Dari pengalaman krisis sebelumnya, sikap pemerintah yang mengingkari adanya masalah atau bahaya besar terhadap ekonomi (denial) justru jadi bumerang.

Yang dituntut adalah respons yang cepat dan tepat, pas, tidak berlebihan, tepat waktu. Pemerintah harus bisa meyakinkan bahwa mereka tahu apa yang harus dilakukan dan menghindari kesan panik, tetapi pada saat yang sama terbuka mengenai kondisi riil yang dihadapi. Sebab, di situ kunci dari kredibilitas dan kepercayaan. Baca selanjutnya…